Tangkapan Layar Dokumenter Berbasis VR "Bulu Mata Kaki"

Dokumenter VR: Medium Alternatif untuk Memahami Disabilitas dengan Baik

Bagikan

Sebagai kelompok marjinal, para penyandang disabilitas begitu berjarak dari masyarakat. Karya visual seperti film dokumenter bisa menjadi ruang yang tepat untuk mempertemukan keduanya. Hal inilah yang diyakini oleh komunitas Forum Film Dokumenter (FFD) saat menginisiasi program Feelings of Reality.

Feelings of Reality sendiri merupakan program pembuatan film dokumenter berbasis Virtual Reality atau (VR) yang mengangkat topik disabilitas. Program ini berlangsung sejak tahun 2018, sementara film-filmnya sendiri diproduksi pada awal tahun 2019 di empat wilayah yakni Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumbawa.

“Kami pikir VR punya kemampuan untuk mendekatkan subjek penonton film terhadap subjek yang ada di dalam film. Dengan fitur untuk menolah ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah untuk melihat sekitar, bagaimana kemudian kedekatan ini menurut kami mampu meningkatkan empati dan simpti terhadap isu disabilitas itu sendiri,” kata koordinator program Alwan Brilian Dewanta, saat dihubungi pada Selasa (15/12).

Pada Senin (14/12), perwakilan hola Pusat, Sumber, dan Media (PSM) SAPDA berkesempatan untuk menikmati pengalaman tersebut. SAPDA lantas memilih dua film yang ditonton, yakni Bulu Mata Kaki dari Jawa Tengah, dan Alun dari Jakarta.

Bulu Mata Kaki bercerita tentang kehidupan Kuswati, seorang penyandang disabilitas fisik yang tidak memiliki kedua tangan. Berlatar di Purbalingga, film ini menyorot kisah Kuswati sebagai buruh ngidep atau pembuat bulu mata palsu. Ngidep sendiri adalah mata pencaharian yang diandalkan sebagian besar perempuan di Purbalingga.

Bulu Mata Kaki berhasil menunjukan bagaimana Kuswati harus menghadapi kerentanan berlapis sebagai perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok miskin. Dengan latar pendidikan terakhirnya yang hanya kelas 2 SD, keadaan itu tidak memberikannya pilihan selain mengambil jalan sebagai buruh ngidep dengan pendapatakan Rp3000 per hari.

Ada pun film Alun bercerita tentang Isro, seorang penyandang disabilitas tuli yang menjadi guru tari bagi anak-anak sesama tuli. Dengan hambatan pendengaran yang dimilikinya, ia memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi tempo melalui getaran sehingga bisa menari sesuai irama musik.

Kebolehan yang ia dapatkan dari ibunya sejak berusia 3 tahun itu, kemudian Isro turunkan ke anak-anak sesama tuli yang diajarnya. Uniknya, dalam film ini, penonton diposisikan sebagai teman Isro, sehingga merasa seperti berinteraksi secara langsung dengannya.

Kolaborasi Seni dan Isu Disabilitas

Alwan bercerita bahwa pembuatan film-film dokumenter tersebut dilakukan dengan mengkolaborasikan dua perspektif, yakni seni dan isu disabilitas. Karena itu, dua dari empat mentor yang mengatur dan mengawasi pembuatan film diadopsi dari organisasi pegiat disabilitas, yakni Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB).

“Kami ingin membuat film yang menampilkan atau membawa isu disabilitas, tetapi tidak lagi membicarakan belas kasihan seperti yang umum kita lihat. Nah sehingga kami harap sebenarnya dari proses mentoring dan diskusi itu membuat filmmaker-filmmaker yang bekerja dalam program ini jadi aware juga,” tutur Alwan.

Delapan film dari empat daerah ini sempat diputar pada akhir November tahun 2019 lalu secara privat. Hanya sejumlah pemangku kepentingan saja yang kala itu bisa menonton, seperti para organisasi para pegiat isu disabilitas. Baru pada tahun 2020 ini, publikasi dilakukan kembali dengan target pasar yang lebih luas.

“Di tahun 2020 ini sebenarnya yang kami inginkan adalah menggait teman-teman muda, artinya komunitas film, pelajar, mahasiswa dan sebagainya. Artinya publik yang kami sasar sekarang tidak hanya publik yang memang sudah concern atau punya aware terhadap isu disabilitas, tetapi juga awam,” kata Alwan.

Namun, menurut Alwan, pencapaian ini masih menyisakan pertanyaan: Bagaimana mempublikasikan film dokumenter lewat medium yang aksesibel bagi para penyandang disabilitas? Ia sendiri pun tidak menampik bahwa bagi non-disabilitas saja, VR sudah cukup dirasa berjarak, mengingat perangkatnya yang sulit didapat dan mahal.

“Kita perlu masukan sebenarnya, bagaimana membuat sebuah platform yang memang aksesibel buat siapa pun. Karena memang soal teknologi pun kita perlahan meraba, perlahan untuk mensiasati sebenarnya agar teman-teman penyandang difabel juga bisa menikmati,” tutup Alwan.

Post Author: Media SAPDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *