Skip to main content

“ Who am I dan Memahami Jati Diri “

Untuk transformasi pemahaman secara mendalam dan mendorong perluasan issue tentang Difabilitas, Gender dan Kespro kepada stakeholder ataupun komunitas di dalam dan diluar komunitas difabel, Lembaga SAPDA mengadakan sekolah untuk perempuan dan perempuan difabel yang materinya mengenai 3 issue yaitu tentang Difabilitas, Gender dan Kesehatan Reproduksi. Sekolah dilaksanakan mingguan yaitu tiap hari Sabtu dan dimulai pada bulan April sampai Juli 2012, peserta sekolah berasal dari Magelang, Klaten dan Yogyakarta. Selain materi ketiga issue tersebut masih ditambah materi menfasilitasi agar nantinya selesai sekolah peserta tidak canggung untuk berbagi dengan masyarakat luas, karena selesai materi peserta sekolah SAPDA juga ada praktek lapangan.

Materi hari pertama yang disampaikan adalah “ Who am I dan Memahami Jati Diri “, peserta diajak memahami diri sendiri dan bahwa manusia di atas bumi itu semua normal, sedangkan ada istilah difabel dan non difabel itu hanya dilihat dari fisiknya saja. Peserta diajak kearah kerangka berpikir yang benar karena merupakan dasar, kalau awal sudah terjebak kerangka berpikir yang salah maka selanjutnya akan berpikir salah Materi hari pertama yang disampaikan adalah “ Who am I dan Memahami Jati Diri “, peserta diajak memahami diri sendiri dan bahwa manusia di atas bumi itu semua normal, sedangkan ada istilah difabel dan non difabel itu hanya dilihat dari fisiknya saja. Peserta diajak kearah kerangka berpikir yang benar karena merupakan dasar, kalau awal sudah terjebak kerangka berpikir yang salah maka selanjutnya akan berpikir salah.

Untuk penyampaian materi ini digunakan metode diskusi dan curah pendapat / sharing, hasil dari diskusi tersebut bahwa syarat manusia normal apabila punya (1) Raga, (2) Roh / Jiwa, (3) Rasa dan (4) Otak. Hal ini mematahkan pemahaman difabel yang hanya bicara dari segi fisik. Konsep ini di butuhkan untuk mengatasi rasa malu ataupun minder dari difabel, karna seorang difabel harus lebih dulu merasa menjadi manusia tanpa ada embel – embel dan tambahan dibelakangnya.

Diharapkan setelah semua memahami diri sendiri akan merubah cara pandang yang negatif menjadi cara pandang yang positif. Dari perubahan cara pandang tersebut akan menyatukan pemikiran difabel dan non difabel sehingga menghilangkan tabir pembatas di antara mereka. Untuk menghilangkan diskriminasi di masyarakat difabel jangan membatasi diri tapi membuka diri dan memberi penjelasan kepada mereka apa yang dibutuhkan difabel.
Janganlah kondisi phisik jadi membebani hidup difabel, kita harus menerima diri secara positif. Sebenarnya penerimaan diri itu bukan hanya untuk difable tapi semua manusia yang hidup harus bisa menerima kekurangan atau kelebihan yang ada pada dirinya. Proses penerimaan diri adalah proses yang paling penting dalam kehidupan seseorang karena jika proses penerimaan diri tersebut gagal maka akan mengalami keminderan, rendah diri, menolak bertemu dengan orang dan lain lain. Ingat pada kata kuncinya “ Kita semua sama sebagai manusia “ tidak perlu ditambah predikat dibelakangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *