Skip to main content

“MERATAPI NASIB BUKAN “JAWABANNYA”

Mungkin kendala utama bagi seorang DIFABEL adalah masalah mobilitas. Sebagian besar dari mereka merasa tidak PD, tidak bisa mandiri karena keterbatasannya. Disamping itu keluarga yang terlalu protektif juga menyebabkan mereka jadi kurang bisa mandiri. Apa yang difabel butuhkan adalah kesempatan dan dorongan untuk mencoba. Jangan halangi keinginan mereka untuk mencoba sesuatu yang baru. Seperti pepatah “Lebih baik gagal karena mencoba daripada tidak pernah gagal karena tidak pernah mencoba” Bisa dimaklumi kalau banyak keluarga yang memiliki anak atau anggota keluarganya menjadi difabel merasa takut kalau terjadi apa-apa terhadap mereka. Tapi, jika “mengurung” mereka terus di dalam rumah, justru akan membuat mereka tidak siap menghadapi hidup yang sebenarnya. Banyak sekali difabel yang merasa rendah diri dengan kondisi mereka. Mereka merasa bahwa mereka hanya jadi beban bagi orang lain dan merasa dirinya tidak berguna. Sehingga banyak diantara mereka yang kurang motivasi diri untuk menatap hidup ini dengan penuh semangat. Perasaan seperti itu memang wajar dialami oleh para difabel. Tapi, alangkah sayangnya kalau hidup ini hanya digunakan untuk meratapi nasib dan berdiam diri.
Untuk itu SAPDA mencoba melakukan survey kelompok perempuan difabel di wilayah Bantul. Berkaitan untuk membangun motivasi dan penerimaan diri terhadap difabel akibat korban gempa 2006, sebanyak 50 responden perempuan difabel korban gempa 60% masih belum menerima bahwa dirinya menjadi difabel, rata-rata responden masih malu jika keluar rumah, merasa rendah diri, sedih dengan kondisi saat ini yang di alami, dukungan keluarga masih kurang, belum berani mengeluarkan atau menyampaikan pendapat, survey ini di lakukan di dua wilayah dampingan SAPDA yaitu di Jetis Bantul Dan Bambanglipuro, melihat hasil survey tersebut, ternyata membangun motivasi dan penerimaan diri terhadap difabel masih harus terus di lakukan, agar nantinya terciptanya kelompok-kelompok difabel yang mempunyai keberanian, kritis, mandiri dan berani.


Membangun motivasi diri memang butuh kerendahan hati untuk dapat menerima diri kita apa adanya. Kita sepakat bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, setiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing – masing. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa rendah hati dan terbuka untuk memaafkan dan menerima kekurangan kita. Sulit memang dan butuh pergulatan jiwa yang keras. Maka ada beberapa cara:
Pertama, Kenali diri kita secara mendalam apa kekurangan kita dan apa kelebihan kita. Jika perlu buat daftarnya pada selembar kertas. Buat daftar kekurangan kita sekecil apapun. Berusaha untuk jujur, tidak apa – apa karena hanya kita dan Tuhan yang tahu. Lalu buat juga daftar kelebihan kita secara jujur pula sekecil apapun kita tulis. Biasanya kita takut sombong dan takabur, tidak apa apa, sesekali kita perlu mengapresiasi diri kita sendiri.
Kedua, Sesudah itu coba bandingkan. Saya yakin Anda akan memiliki daftar kelebihan lebih banyak daripada daftar kekurangan. Namun jika ternyata daftar kekurangan Anda lebih banyak maka hitung selisihnya antara jumlah kekurangan dengan jumlah kelebihan. Lalu pikirkan cara untuk memperbaikinya dan catatlah. Maka sekarang hidup Anda punya arti yaitu bagaimana memenuhi kekurangan – kekurangan tersebut.
Ketiga, Dengan membangun kelompok-kelompok difabel, dalam rangka tukar pengalaman,meningkatkan motivasi diri, peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang difabilitas.
Satu hal yang bisa menambah motivasi kita adalah keyakinan bahwa Allah tidak pernah menciptakan makhluk-Nya tanpa alasan atau tanpa maksud. Maka hidup kita sebenarnya adalah amanah, maka sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk menjalani hidup ini dengan baik karena hidup ini adalah keputusan yang kita buat sendiri. Hanya orang yang tahu alasan mengapa dia harus hidup, maka dia dapat menjalani hidup dengan ringan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *