Skip to main content

PERSEPSI DIFABEL DAY

Sholih Muhdlor, Low vision disability
“..disabilitas bukanlah hambatan, so what? Lalu kenapa??”
Disability/Difabel Day memiliki arti yang sangat luas, sejak digaungkan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada tanggal 3 Desember, setiap person with disability mendapatkan pengakuan dari dunia Internasional. Banyak cara dalam memperingati hari penting ini, bisa dengan kampanye, gelar aksi, diskusi, konser, jalan santai, lomba kreatifitas, dan lain-lain. Pemahaman akan arti dari Difabel Day ini juga beragam, seperti Mas Sholih Muhdlor yang akrab disapa mas Sholih, seorang difabel low vision yang tidak menganggap bahwa disabilitas bukanlah hambatan, yang sudah malang melintang dalam dunia organisasi disabilitas ini memiliki sebuah definisi tersendiri mengenai hari penting ini. Berikut hasil perbincangan tim media SAPDA dengan Mas Sholih :
Menurut anda, apakah difabel day itu?
Difabel day adalah sebuah moment yang luar biasa bagus untuk kemudian mengingatkan kepada kita semua, bahwa ada keberagaman manusia di atas bumi ini, bahwa bumi ini tidak selalu dan melulu berisi perempuan – laki laki, kaya miskin, orang desa – orang kota, tapi juga bahwa ada kelompok masyarakat (dalam hal ini orang dengan disabilitas) yang sampai sekarang masih mangalami peminggiran dan stigma negatif dari kelompok masyarakat yang lain, baik itu peminggiran secara budaya, ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain-lain. Bahwa kemudian dengan difabel day ini kita diminta untuk berhenti sejenak, menengok sekitar, dan bertanya pada diri sendiri : Apa yang sudah saya lakukan untuk membuat diri saya dan dunia ini menjadi lebih baik?
Menurut anda secara personal, apakah anda tahu mengenai sejarah dari difabel day ini?
International Day of Person with Disabilities adalah sebuah hari dimana PBB menetapkan sebagai hari peringatan untuk orang dengan disabilitas, setiap tanggal 3 Desember, digunakan sebagai hari peringatan ini. Setiap tahun, PBB akan menetapkan sebuah tema peringatan yang bebas diterjemahkan atau diwujudkan oleh setiap orang yang memperingatinya.
Menurut anda, apakah perlu memperingati difabel day? Dengan cara apa saja anda memperingati difday tersebut?Perlukah memperingati International Day of Person with Disabilities ini?
Perlu.


Haruskah dengan kegiatan besar-besaran dan gebyar yang meriah? Menurut saya tidak harus selalu begitu. Yang paling penting adalah, bagaimana dalam peringatan hari ini kita semua kembali merefleksikan apa yang sudah kita lakukan selama setahun kemarin dalam hal membuat dunia ini lebih baik untuk ditinggali setiap orang. Misalnya apakah kita sudah cukup sensitif, asertif, dan memiliki kesadaran terhadap orang-orang dengan disabilitas? Atau apakah kita sendiri sebagai orang dengan disabilitas, sudah cukup memiliki “bekal”, keberanian, dan daya saing untuk mampu “bertarung” di dunia yang menuntut dan memandang kesempurnaan fisik sebagai ukuran? Hari difable day ini tidak boleh hanya menjadi satu-satunya “titik” dimana kita “ingat” dengan orang-orang dengan disabilitas, tapi jadikanlah hari ini sebagai “tolak” ukur tindakan dan sikap kita terhadap orang dengan disabilitas dan atau kita sendiri sebagai orang disabilitas (dalam memandang orang dengan lain disabilitas, dan sikap diri kita sendiri sebagai orang dengan disabilitas).
Menurut saya sebagai orang dengan disabilitas, saya berbuat, dan berjuang untuk eksistensi diri saya di masyarakat saya lakukan setiap hari. Penyadaran kepada masyarakat tentang keberadaan dan hak-hak orang dengan disabilitas ini juga harus dilakukan terus menerus tanpa henti, tidak hanya pada saat seputar tanggal 3 Desember saja, tetapi memang ketika ada peringatan hari Internasional Penyandang Disabilitas setiap bulan Desember, saya berusaha untuk ikut serta memeriahkan dan mengikutinya. Walaupun tidak selalu bisa menyumbangkan sesuatu yang berarti, paling tidak itu adalah moment yang sangat tepat untuk berkumpul dan bertemu dengan teman-teman dan semua orang yang peduli dengan disabilitas sehingga semangat saya pun juga terbaharui.
Selama ini sampai sekarang adakah perubahan dalam peringatan difabel day ini?
Iya ada perubahan, semakin tahun peringatannya semakin meriah. Yang saya lihat setiap kali Hari Internasional untuk orang dengan Disabilitas ini diperingati, orang/organisasi/komponen yang terlibat dalam peringatan itu semakin beragam dan semakin banyak dilaksanakan di banyak tempat. Menurut saya ini adalah sinyal positif, bahwa masyarakat mulai bisa menerima orang dengan disabilitas sebagai anggota masyarakat penuh, dan bagi komunitas disabilitas sendiri ini juga menjadi tanda bahwa komunitas semakin mampu membaur dengan orang/masyarakat secara penuh (masyarakat semakin inklusif). Untuk diri saya sendiri, setiap hadir pada peringatan Hari Internasional Orang dengan Disabilitas, dan bertemu dengan kawan-kawan disabilitas serta orang-orang yang peduli dengan isu disabilitas, selalu bisa memompa semangat saya bahwa kita (orang dengan disabilitas) tidak melakukannya sendiri. Ada banyak orang yang semakin peduli dengan kesetaraan dan pemenuhan hak tanpa memandang soal-soal disabilitas lagi.
Adakah pesan/kesan anda sebagai seorang penyandang disabilitas kepada teman-teman difabel lain dan juga masyarakat?
Disabilitas, adalah sebuah keniscayaan yang ada di masyarakat. Siapa saja bisa menjadi disabel kapan saja. Dan disabilitas bukanlah komoditas, sebagai orang dengan disabilitas saya tidak ingin menjadikan disabilitas saya sebagai komoditi / nilai jual diri saya sendiri. Bahwa saya tidak ingin menggantungkan hidup saya pada disabilitas saya (berharap bantuan, sumbangan, dll). Saya low vision, tapi toh saya masih punya sesuatu yang bisa saya pergunakan untuk melanjutkan hidup saya. Biar orang bicara apa saja tentang saya, tapi hidup saya harus terus berlanjut. Apabila mereka bertanya, saya menjawab. Mereka mencibir, saya buktikan. Sesederhana itu hidup saya. Saya belajar, bahwa untuk bisa “membaur dengan masyarakat luas, kepercayaan diri saja tidak cukup”. Butuh keberanian dan sikap asertif untuk bisa “menterjemahkan” rasa-rasa percaya diri menjadi senjata untuk menaklukkan dunia. Pesan saya untuk teman-teman : jangan takut, ayo keluar dari zona nyamanmu. Keluar saja dulu, pasti banyak orang yang akan menyambutmu, yakinlah. Saya Low Vision, saya berulang kali kesasar naik bis tapi toh saya tetap sampai tujuan. Itu contoh konkritnya.
Sudah seharusnya, masyarakat menjadi lebih assertif kepada penyandang disabilitas, tidak lagi hanya dilihat saja, rangkul dan ajak mereka. Kemampuan mereka bahkan lebih dari yang non disabilitas. Seperti kata Mas Sholih, moment difabel day ini sebagai tolak ukur masyarakat untuk menjadi masyarakat yang inklusif. (Dhinda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *