Written by Media SAPDA on October 8, 2018 in Artikel Beranda

Sholih Muhdlor (Koordinator Program SAPDA)

Perayaan pembukaan Asian Para Games (APG) yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno pada 6 Oktober lalu tidak semeriah perayaan pembukaan Asian Games. Hal ini menjadi sorotan sejumlah pihak, terutama pengamat isu disabilitas.

Sholih Mudhlor, koordinator program SAPDA, menyebutkan sejumlah penyebab mengapa minimnya antusias masyarakat dalam ajang olahraga difabel se-Asia tersebut. Minimnya anggaran yang digelontorkan adalah faktor utama. Anggaran menjadi faktor penting ketersampaian informasi terkait APG ke publik luas.

Dana yang dipegang INAPGOC sebagai penyelenggara acara ini hanya Rp 1,8 triliun. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dana yang dikucurkan untuk Asiang Games. Kesuksesan Asian Games didukung oleh anggaran sebesar Rp 8,2 triliun. Dana tersebut digunakan untuk akomodasi, honor atlet, kampanye, dan sebagainya.

Faktor kedua menurut Sholih adalah jumlah kontestan yang lebih sedikit dari Asian Games. Selain itu, jenis cabang olahraga yang ramping juga jadi sebab. “Dari sisi bujet sendiri APG tidak lebih besar dari Asian Games. Dari jumlah negara, peserta dan cabor yang diperlombakan” papar Sholih.

Di samping kedua faktor tersebut, Sholih menambahkan bahwa belum meluasnya isu disabilitas turut menjadi penyebab rendahnya antusiasme masyarakat. Isu disabilitas masih dipandang sebelah mata. Media juga tidak memberikan ruang yang besar terkait isu ini. “Karena isu difabel belum seseksi isu yang lain, maka peliputan media jadi tidak sebombastis Asian Games.”

Menurut Sholih, perayaan APG ini seharusnya menjadi momentum pembuktian bahwa penyandang disabilitas bisa berprestasi. Penyandang disabilitas yang selama ini dipandang sebelah mata dan tidak mandiri juga bisa mengharumkan nama bangsa. Hal ini seharusnya bisa menjadi ide yang diusung, tapi media belum mampu melihat ke arah situ. (bwp)

Leave Comment