Skip to main content

PENERIMAAN DIRI SEBAGAI KUNCI KESUKSESAN

Seorang pemuda terlihat duduk termenung di sebuah teras rumah. Dia adalah Fulan, anak pak Karya yang baru mengalami kecelakaan lalu lintas hingga kedua kakinya harus diamputasi. Amputasi kaki tersebut telah memukul jiwa Fulan, pemuda yang dulu energik dan selalu ceria kini menjadi pemurung, suka menyendiri, dan mudah tersinggung. Fulan tidak lagi terlihat main gitar sambil menyanyikan lagu kesayangannya dengan gaya konser, dia juga tidak mau lagi hadir dalam rapat Karang Taruna. Padahal dulu sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya, Fulan adalah pemuda yang paling vokal dalam setiap rapat pengurus Karang Taruna, ide-idenya cukup cemerlang, maka tak salah jika tahun kemarin dia terpilih untuk mewakili kotanya menjadi Pemuda Pelopor tingkat Nasional.
Kecelakaan lalu lintas tersebut telah mengubah 180 derajat kehidupan Fulan. Bagi Fulan dunia seakan begitu sempit dan masa depan hanya mimpi kosong yang hampa. Dalam catatan hariannya Fulan menuliskan bahwa dia telah mengubur dalam-dalam impian dan cita-citanya, karena dia sudah tidak yakin bahwa dia dapat mewujudkan impiannya dengan kondisi yang sekarang dia miliki. Me-mang telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Fulan kini menyandang predikat baru sebagai se-orang difabel. Predikat baru tersebut telah membuatnya menjadi risih dan minder, karena difabel bagi dia dan masyarakat sekitar identik dengan ketidakberdayaan dan aib. Yang ada dalam benak pikiran Fulan sekarang ini hanyalah penyesalan dan ratapan akan nasib yang menimpa dirinya.

(more…)

“ Who am I dan Memahami Jati Diri “

Untuk transformasi pemahaman secara mendalam dan mendorong perluasan issue tentang Difabilitas, Gender dan Kespro kepada stakeholder ataupun komunitas di dalam dan diluar komunitas difabel, Lembaga SAPDA mengadakan sekolah untuk perempuan dan perempuan difabel yang materinya mengenai 3 issue yaitu tentang Difabilitas, Gender dan Kesehatan Reproduksi. Sekolah dilaksanakan mingguan yaitu tiap hari Sabtu dan dimulai pada bulan April sampai Juli 2012, peserta sekolah berasal dari Magelang, Klaten dan Yogyakarta. Selain materi ketiga issue tersebut masih ditambah materi menfasilitasi agar nantinya selesai sekolah peserta tidak canggung untuk berbagi dengan masyarakat luas, karena selesai materi peserta sekolah SAPDA juga ada praktek lapangan.

Materi hari pertama yang disampaikan adalah “ Who am I dan Memahami Jati Diri “, peserta diajak memahami diri sendiri dan bahwa manusia di atas bumi itu semua normal, sedangkan ada istilah difabel dan non difabel itu hanya dilihat dari fisiknya saja. Peserta diajak kearah kerangka berpikir yang benar karena merupakan dasar, kalau awal sudah terjebak kerangka berpikir yang salah maka selanjutnya akan berpikir salah Materi hari pertama yang disampaikan adalah “ Who am I dan Memahami Jati Diri “, peserta diajak memahami diri sendiri dan bahwa manusia di atas bumi itu semua normal, sedangkan ada istilah difabel dan non difabel itu hanya dilihat dari fisiknya saja. Peserta diajak kearah kerangka berpikir yang benar karena merupakan dasar, kalau awal sudah terjebak kerangka berpikir yang salah maka selanjutnya akan berpikir salah.

(more…)

PENGALAMAN ORGANISASI DALAM MENANGANI PERMASALAHAN YANG SAMA DENGAN KEGIATAN YANG SEDANG DILAKUKAN

• Melakukan Konsultasi dan pendampingan bagi difabel yang memiliki masalah dan pendampingan organisasi difabel baru (5 Kabupaten/Kota diPropinsi DIY dan Propinsi Jawa Tengah ( Kabupaten/Kota magelang dan Kabupaten Klaten )
• Advokasi anti Diskriminasi terhadap Difabel dalam penerimaan CPNS tahun 2006.
• Training TOT HAM bagi kelompok Difabel se DIY JATENG berkerjasama dengan Komnas HAM pada 27 Agt – 1 Sep 2005
• Mengadakan sasarasehan dengan tema refleksi kebijakan pemerintah terhadap Difabel dalam rangka memperingati hari Difabel Internasional Desember 2005
• Training Hak Ekosob mengenai anggaran berkerjasama dengan IDEA pada Januari – Februari 2006
• Membentuk jaringan advokasi difabel untuk mendesakan kebijakan yang berperspektif difabelitas.
• Training Hak Ekosob bagi jaringan Pegiat HAM Se-Jawa pada bulan Maret 2006 berkerjasama dengan Komnas HAM.
• Melakukan advokasi kebijakan publik mengenai anggaran pemerintah dalam pengalokasian anggaran bagi kelompok difabel yang jelas.
• Melakukan sosialisasi hak hak difabel di kelompok difabel
• Melakukan advokasi hak ekosob bagi kelompok difabel terhadap kebijakan daerah.
• Bekerja sama dengan berbagai pihak dalam melakukan aktivitas Tanggap bencana gempa 27 mei yang melanda DIY –Jateng, antara lain :
• Bekerjasama dengan PMI –IRC untuk menyalurkan alat bantu bagi korban gempa
• Bekerjasama dengan Falsafatuna untuk menyalurkan bantuan kebutuhan pokok (sembako dll)
• Menyediakan tempat penampungan sementara / shelter untuk rumah produksi bagi difabel yang menjadi korban gempa
• Bergabung dalam posko SBY ( Semangat Bangkit Jogja ) dalam program recovery
• Berkerjasama dengan komnas HAM dalam Pemetaan Masalah Kebutuhan Penyandang cacat Paska Gempa 27 Mei 2006
• Berkerjasama dengan RHK kemitraan Australia dengan Indonesia dalam program livelihood Di wilayah Kabupaten bantul dan Kabupaten Klaten
• Bekerja sama dengan Komnas HAM dalam Sosialisasi Konvenan Internasional Hak Penyandang cacat dan pendesakan pendatanganan Konvenan oleh pemerintah Republik Indonesia.

KESEHATAN REPRODUKSI DAN PEREMPUAN DENGAN DISABILITAS BARU (SEBUAH PENGALAMAN PENDAMPINGAN TERHADAP PEREMPUAN KORBAN GEMPA BUMI JATENG-DIY 2006)

Latar belakang : masalah individu serta social yang dialami oleh perempuan dengan disabilitas baru
Kehidupan perempuan dengan kecacatan yang baru diterima setelah mereka dewasa, pernah menikmati hidup secara mandiri tanpa pertolongan, bantuan, dan bebas beraktifitas secara social ataupun ekonomi sangat berat. Terlebih lagi pada perempuan yang merupakan tulang punggung keluarga, hidup dengan disabilitas, menggunakan alat bantu seperti kursi roda, kehilangan mata pencaharian, kehidupan social bahkan keluarganya.
Penerimanaan diri secara positif terhadap kecacatan menjadi persoalan pertama yang harus diselesaikan sebelum melangkah pada persoalan yang lain yaitu pengembalian aktivitas social dan pengembalian perekonomian / penghidupannya.

Proses penerimaan diri secara positif bagi perempuan dengan disabilitas baru dimulai dari bagaimana pemahaman kondisi mereka yang “baru” secara utuh, secara fisik ataupun non fisik. Secara fisik adalah mereka menyadari apa yang berubah pada diri mereka seperti kehilangan anggota badan (kaki, tangan, sebagian atau seluruhnya), atau tidak berfungsinya sebagian dari anggota gerak walaupun masih ada (misalkan kelumpuhan bagian pinggang kebawah) seperti paraplegia ataupun parapharase. Apa yang masih mampu dilakukan dan apa yang sudah tidak mampu dilakukan dengan mandiri pada kondisinya yang baru. Pemahaman secara rasional apa yang sebenarnya telah terjadi dan kedepan dengan kondisinya tersebut, karena sebagian besar dari mereka masih mempunyai harapan besar bahwa mereka hanya sakit dan akan sembuh suatu saat.

(more…)

PENTINGNYA ASI BAGI IBU DAN ANAK

Saat ini sedang digalakkan IMD ( Inisiasi Menyusui Dini ) bayi disarankan untuk mengkonsumsi ASI dini yang banyak mengandung kolostrum yang sangat bagus untuk gizi bayi. Bayi yang baru lahir organ tubuhnya belum sempurna, sehingga hatinya tidak bisa memompa darah dengan baik, jika darah tidak disaring dengan baik oleh hati maka racun akan terbawa dan berakibat kuning pada kulit, untuk itulah pentingnya ASI, terutama yang pertama keluar yang berwarna kuning dan kental, itulah yang mengandung gizi yang hebat sekali, mengandung antibody yang tidak ada di susu formula. Jika kita punya saudara atau putri yang mengandung silahkan disarankan. Bayi sebenarnya tahan 3X24 jam tidak kemasukan apa apa karena dia masih punya stok makanan sejak dia di dalam rahim.

(more…)

SAPDA Go to School

Dalam program untuk mendekatkan SAPDA dengan masyarakat sosial khususnya para pelajar, maka pada bulan November 2013 kemarin program SAPDA Go to School sudah dimulai. Kegiatan ini berupa sosialisasi atau mainstreaming diffabel terhadap sekolah dengan tujuan agar para siswa dan guru paham tentang isu-isu yang terjadi tentang disabilitas. Dengan harapan agar pengetahuan ataupun isu-isu tentang disabilitas bisa ditreima di kalangan sekolah baik murid maupun guru, sehingga nantinya tidak lagi memandang penyandang disabilitas sebagai hambatan dalam menuntut ilmu di sekolah. Juga diharapkan nantinya kepada pihak sekolah bisa menerima siswa difabel di sekolah sehingga sekolah itu menjadi sekolah inklusi.

Dalam program SAPDA Go to School ini, SAPDA mengajak teman-teman diffabel dari berbagai jenis disabilitas sebagai narasumber. SAPDA telah mengunjungi beberapa sekolah, diantaranya : SMAN 1 Srandakan Bantul, SMP Muhammadiyah 1 Sleman, SMPN 2 Yogyakarta, dan SMP Kanisius Bambanglipuro Bantul.

Metode yang dilakukan adalah:
mengenalkan tentang jenis-jenis disabilitas secara langsung maupun melalui media;
bagaimana caranya berinteraksi dengan penyandang disabilitas;
menyebutkan beberapa faktor penyebab terjadinya seseorang dapat menyandang disabilitas.
Semoga dengan adanya kegiatan ini secara rutin juga bisa mempromosikan pergerakan kaum disabilitas untuk berkarya, berkreasi dan membantu teman-teman penyandang disabilitas untuk maju bersama.

PROFIL SAPDA

 

PROFIL SAPDA
(SENTRA ADVOKASI PEREMPUAN DIFABEL DAN ANAK)

Lembaga SAPDA merupakan singkatan dari SENTRA ADVOKASI PEREMPUAN DIFABEL DAN ANAK, Badan Hukum Atas nama lembaga SAPDA no. 51 tahun 2005 dengan Akta Notaris Anhar Rusli, diubah dengan no. 7 tahun 2013 dengan akta notaris Herry Sabto Widodo, dan dilakukan perubahan bentuk kelembagaan menjadi Yayasan pada tahun 2016 dengan nama Yayasan Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak dengan Akta Notaris Ika Farikha no. 4 tanggal 12 Oktober tahun, 2016 , dan disahkan dengan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No. AHU-0040582.AH.01.04 tahun 2016 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak.

Alamat                : Komplek BNI No. 25 Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta
Telepon/ fax      : 0274-384066
Email                  : info_sapda@yahoo.com/sapda2005@gmail.com
Website              : www.sapdajogja.org
Kontak Person  : Nurul Saadah Andriani, SH

Visi, Misi Lembaga SAPDA dan Rencana strategis 2017-2020

Visi:
Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA) adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan visi “perjuangan mewujudkan perubahan, keadilan, kebebasan, kesejahteraan dan kesetaraan untuk pemenuhan dan perlindungan hak perempuan, penyandang disabilitas dan anak dalam masyarakat inklusi atas dasar persamaan hak asasi manusia”.

Misi:
1. Melakukan kajian keilmuan dan penelitian ilmiah.
2. Memperjuangkan terwujudnya kebijakan public yang menjamin pemenuhan hak-hak dasar perempuan, difabel dan anak dibidang pendidikan, kesehatan dan pekerjaan.
3. Melakukan pemberdayan, pendidikan dan advokasi tentang issu-issu perempuan, difabel dan anak dikalangan masyarakat luas.
4. Menjalin kerjasama dengan stakeholder berkaitan dengan penanganan persoalan, difabel dan anak.
5. Membangun sapda sebagai crisis center bagi perempuan, difabel dan anak.
6. Mewujudkan pusat sumber informasi, data, pengetahuan dan pembelajaran tentang Perempuan, Difabel dan Anak