Category Archives: Artikel

PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI BAGI REMAJA DISABILITAS DI BRTPD PUNDONG, 30-31 AGUSTUS 2016

img_3666 img-20160901-wa0027

Setiap orang, baik orang tua maupun anak dan remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi untuk lebih memahami pentingnya pengetahuan tersebut bagi dirinya. Kesehatan Reproduksi bukan hanya tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan, alat kontrasepsi dan penyakit yang berkaitan dengan hubungan tersebut. Akan tetapi, kesehatan reproduksi adalah keseluruhan rangkaian sistem dan fungsi reproduksi sehingga sehat secara fisik, mental dan sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.
Banyak orang tua dan remaja non disabilitas belum memahami tentang pentingnya hal tersebut. Lalu, bagaimana dengan remaja dengan disabilitas? Apalagi disabilitas mereka bermacam-macam, antara lain disabilitas netra, disabilitas grahita, disabilitas daksa dan lain-lain. Tentu saja pemahaman mereka juga bermacam-macam, bagaimana cara mereka mengerti konsep kesehatan reproduksi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Sangat kompleks dan perlu kerja bersama seluruh komponen untuk melakukannya.
SAPDA sebagai lembaga yang konsen terhadap masalah tersebut, mencoba melakukan transfer pengetahuan kesehatan reproduksi yang berguna untuk remaja dengan disabilitas. Bagaimana mereka memahami tentang organ reproduksi mereka, bagaimana merawatnya sehingga nantinya remaja tersebut mampu meningkatkan pertahanan diri mereka dengan baik dari pihak-pihak di luar diri mereka, baik berbentuk pelecehan ataupun kekerasan. Oleh sebab itu, untuk menjembatani transfer pengetahuan tersebut SAPDA akan melakukan Training Kesehatan Reproduksi untuk Remaja dengan Disabilitas di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Pundong pada tanggal 30-31 Agustus 2016. Pelatihan tersebut akan diikuti oleh remaja disabilitas yang bertempat tinggal di asrama BRTPD, dengan komposisi remaja disabilitas netra, disabilitas daksa, dan disabilitas runguwicara/tuli.
Tujuan dari kegiatan ini adalah : Menggali pengetahuan remaja disabilitas tentang kesehatan reproduksi; dan Meningkatkan pemahaman remaja disabilitas terhadap pelecehan dan kekerasan seksual. Sedangkan hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan pelatihan ini adalah : Adanya pengetahuan remaja disabilitas tentang kesehatan reproduksi yang lebih mendalam; dan Adanya konsep pertahanan diri remaja disabilitas dari pelecehan dan kekerasan.
Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, yaitu Selasa dan Rabu, 30 dan 31 Agustus 2016 pukul 09.00 – 12.00 WIB bertempat di BRTPD Pundong, Srihardono, Pundong, Bantul.

Continue reading PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI BAGI REMAJA DISABILITAS DI BRTPD PUNDONG, 30-31 AGUSTUS 2016

PELATIHAN PENANGANAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DISABILITAS DI LOMBOK (NTB)

img-20160809-wa0013 img-20160809-wa0010

SAPDA sangat concern dalam memperjuangkan hak penyandang disabilitas, tidak hentinya melakukan gerakan-gerakan untuk memperkuat level jejaring dalam bersinergi bersama DPO, CSO, NGO dan pemerintah untuk melakukan pelatihan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak disabilitas. Pelatihan ini dilakukan pada 9 s/d. 11 Agustus 2016 bertempat di Mataram, lombok.

Pelatihan ini bertujuan untuk memahamkankonsep kekerasan berbasis Seks, Gender dan Disabilitas stakeholder pemberi layanan level daerah; memahamkan konsep penanganan kekerasan terhadap perempuan dengan disabilitas berbasis konsep gender dan disabilitas kepada stakeholder pemberi layanan level daerah dan mendorong sinergitas DPO, CSO serta pemberi layanan dalam penanganan kekerasan berbasis gender dan disabilitas.

Peserta yang terlibat dalam pelatihan ini adalah :
1. LPA Nusa Tenggara Barat
2. BP3AKB
3. Dinas Dikpora
4. Peksos propinsi
5. LSM ( LBH Apik, SANTAI, GAGAS Mataram, FORPAKEM)
6. Pokja ABH kec. Ampenan
7. PSMP Paramita ( Lembaga dibawah kementrian untuk rehabilitasi pada anak).
8. RPTC (Rumah Perempuan Trauma Center (Tempat rehabilitasi untuk khusus korban perempuan dibawah Dinas Sosial)
9. PKBI
10. Kejaksaan negeri NTB
11. Kejari Mataram
12. PPA Polres Mataram
13. PPA Polda NTB
14. DPO (PPDI dan Gerkatin)

Di awal proses mengenai diskusi kelompok peserta, dipresentasikan hasil diskusi yang menggambarkan kekerasan berbasis gender dan disabiltias, seperti :
• Steorotype : Stigma negative pada disabilitas dari masyarakat (lemah, tidak layak, merepotkan)
• Diskriminasi : Tidak memberi kesempatan pada disabilitas
• Awarness : Keluarga/masyarakat kurang memahami kebutuhan disabilitas.
• Over protektif : Sikap keluarga/masyarakat kepada disabilitas yang berlebihan.
• Kekerasan seksual : Kondisi disabilitas memberi peluang yang besar untuk menjadi korban kekerasan/perkosaan. Hukum positif di Indonesia kurang berpihak pada disabilitas masih bicara secara umum.

Dalam hasil diskusi selanjutnya, masih ditemukan penyebutan “Tuna…” sedangkan kerentanan karena penyandang didsabilitas dianggap aib keluarga atau karma sehingga masih banyak dikucilkan/ disembunyikan. Bila terjadi kekerasan pada mereka maka biasanya langkah penyelesaian dengan hukum adat dan kekeluargaan. Dalam melakukan pendampingan penting memahami sampai dasar / konsep harus jelas agar bisa menganalisa dari berbagai sisi dan terwujud apa yang menjadi KEBUTUHAN KORBAN. Struktur dalam masyarakat (Tingkatan relasi kuasa / tahapan di masyarakat) juga sangat berpengaruh untuk menganalisa dalam penyelesaian masalah, misalnya :
– Pimpinan dan bawahan, walaupun bawahan adalah laki-laki akan tetapi karena relasi kuasa maka pimpinan perempuan lebih berkuasa.
– Majikan dan pembantu, dalam kasus kekerasan pembantu tidak berani melaporkan majikan karena takut dipecat/tidak punya penghasilan.
– Pembantu perempuan dan pembantu laki-laki sama-sama pembantu, lebih rentan yang perempuan menjadi korban kekerasan.

Continue reading PELATIHAN PENANGANAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DISABILITAS DI LOMBOK (NTB)

AUDIENSI KE BPAD DIY TERKAIT INISIASI PERPUSTAKAAN AKSESIBEL SAPDA

IMG-20160407-WA0005

Kamis, 7 april 2016 tim SAPDA mengadakan audiensi ke BPAD (Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah) mengenai inisiasi rintisan perpustakaan aksesibel SAPDA bagi teman-teman disabilitas netra.

Kepala BPAD, Budi Wibowo mengapresiasi inisiasi perpustakaan aksesibel SAPDA, ia juga menambahkan ada beberapa koleksi yang masih belum lengkap di Grhatama Pustaka terkait dengan kebutuhan teman-teman disabilitas netra dalam aksesibilitas informasi sumber referensi. Dalam hal ini tim perpustakaan SAPDA menyampaikan program-program terkait format media yang akan diproduksi sehingga nantinya akan memudahkan teman-teman disabilitas netra mengakses informasi. Selain itu, salah satu program dari perpustakaan aksesibel SAPDA adalah menjangkau teman-teman disabilitas netra di daerah, sehingga diharapkan ke depannya kapasitas teman-teman netra akan meningkat, selalu belajar dan mencari tahu informasi.

Ditemani juga oleh Budiyono, Pustakawan Madya BPAD DIY mengatakan bahwa perlu adanya optimalisasi pemanfaatan koleksi Perpustakaan Daerah, karena dari BPAD telah menyediakan sarana bagi teman-teman disabilitas untuk dapat mengakses perpustakaan.

Dengan demikian, apabila terjalin kerjasama antara SAPDA dengan BPAD diharapkan terwujudnya iklim inklusi di DIY.

 

 

 

 

MENYIBAK SENSITIVITAS GENDER DALAM KELUARGA DIFABEL

Penulis : Drs. Argyo Demartoto, M. Si
Tahun terbit : 2005
Penerbit : Sebelas Maret University Press
ISBN : 979-498-250-4

 

Resensi Buku oleh : Ika Arinia

 

Buku ini berbicara mengenai permasalahan minoritas seperti isu kelompok marginal, kesetaraan dan kepekaan gender yang terjadi pada kelompok perempuan difabel. Kelompok perempuan difabel dipilih sebagai objek penelitian karena penulis meyakini bahwa baik itu isu kecacatan maupun gender sama – sama ‘dibentuk’ atau ‘dikonstruksikan’ oleh masyarakat. Artinya, dibalik kenyataan – kenyataan biologis seperti berbedanya fungsi tubuh seseorang atau jenis kelamin yang dimiliki oleh seseorang, ada atribusi sosial yang dilekatkan oleh masyarakat terkait dengan apa yang mereka lihat, rasakan dan alami sesuai dengan pengalaman hidupnya. Posisi perempuan difabel pun menjadi lebih berbahaya karena stereotype-ing yang mereka alami lebih kuat jika dibandingkan dengan stereotype yang dialamatkan pada kelompok perempuan pada umumnya. Stereotype ini terkait dengan ketergantungan mereka pada lingkungan sekitar, kepasifan dan kelemahan yang melekat pada tubuh mereka. Stereotype pada perempuan difabel muncul disebabkan karena 3 alasan. Pertama, triple diskriminasi yang mereka alami. Stigma hadir karena mereka ‘berjenis kelamin perempuan’ dan juga karena ‘menyandang kecacatan’, selain itu sebagian dari mereka juga lahir dalam kondisinya yang ‘miskin’, baik itu miskin secara ekonomi, sosial, politik, dll. Alasan kedua, adanya feminitas. Dimana stereotype bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah melahirkan perlakuan – perlakuan bias gender. Ketiga, perempuan difabel cenderung memiliki self confidence yang rendah akibatnya mereka kurang bisa menghargai diri mereka dan kemampuan yang mereka punya.
Menguatnya proses stereotype-ing yang dilakukan pada difabel salah satunya disebabkan karena bargaining position difabel yang tidak kuat. Hal ini semakin diperparah dengan jumlah difabel yang memang sangat sedikit yaitu 10 juta jiwa. Disisi lain keberadaan regulasi pada kenyataannya tidak mampu mengcover apa yang menjadi kebutuhan dari difabel. Regulasi yang hadir seperti Deklarasi Hak – Hak Penyandang Cacat yang disahkan PBB pada 9 Desember 1975 maupun UU No 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat hanya diwujudkan sebagai lip service atau perpanjangan tangan penguasa semata. Karena pada dasarnya hak difabel seperti hak memperoleh pendidikan, kesempatan kerja, pengembangan ekonomi, penggunaan fasilitas umum, berkomunikasi, dan mendapatkan informasi, perlindungan hukum, peran politik, jaminan sosial, jaminan kesehatan tidak dapat diperoleh sebagaimana mestinya. Pemerintah yang seharusnya menjadi pihak aktif yang mengakomodasi kebutuhan difabel pada kenyataannya justru tidak produktif karena difabel dianggap sebagai pihak yang tidak dapat memberikan konstribusi dalam proses pembangunan.

Continue reading MENYIBAK SENSITIVITAS GENDER DALAM KELUARGA DIFABEL

DISKUSI KEKERASAN PADA REMAJA PENYANDANG DISABILITAS

Hari Perempuan Internasional dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahun. Ini adalah sebuah hari besar yang dirayakan di seluruh dunia untuk memperingati keberhasilan kaum perempuan di bidang ekonomi, politik dan sosial. Di antara peristiwa-peristiwa historis yang terkait lainnya, perayaan ini memperingati kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya.
Menurut data Komnas Perlindungan Anak (PA), kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak meningkat jumlahnya dari waktu ke waktu. Pada tahun 2015 menunjukkan dari 1.726 kasus pelecehan seksual yang terjadi, sekitar 58 persennya dialami anak-anak. Ironisnya, kasus-kasus kekerasan seksual yang dialami anak-anak justru lebih sering terjadi di dalam lingkungan terdekat anak, seperti di dalam rumahnya sendiri, sekolah, lembaga pendidikan dan lingkungan sosial anak. Pelakunya adalah orang yang seharusnya melindungi anak, seperti orang tua, paman, guru, juga bapak atau ibu tiri.
SAPDA sendiri, sebagai lembaga yang konsen pada perlindungan perempuan, disabilitas dan anak beberapa waktu ini telah melakukan proses pencegahan dengan melalui pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja dengan disabilitas di beberapa sekolah, komunitas dan orang tua dari remaja dengan disabilitas. Tindak lanjut untuk pencegahan tersebut adalah melakukan forum diskusi pemahaman kekerasan yang dihadapi oleh anak/remaja dengan disabilitas sehingga tercapai satu kesatuan pemahaman serta agar anak/remaja disabilitas tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan berkualitas. Dalam rangka memperingati hari Perempuan Internasional serta untuk mengawali diskusi selanjutnya, SAPDA ingin mengangkat tema kekerasan yang dialami dan dihadapi oleh remaja disabilitas.

Continue reading DISKUSI KEKERASAN PADA REMAJA PENYANDANG DISABILITAS

DISKUSI KEBUTUHAN/ FASILITAS DASAR PERPUSTAKAAN AKSESIBEL SAPDA

IMG_2022

Diskusi yang difasilitasi Oleh SAPDA terkait dengan perpustakaan aksesibel ini menghadirkan beberapa pengurus Braille’iant Jogjakarta dan melibatkan beberapa mahasiswa difabel netra yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, dengan detail P : 8 orang, L: 11 orang, disabilitas netra : 10 orang. Diskusi ini dilaksanakan di ruang difabel corner UIN Sunan Kalijaga Yogyarta. Hal-hal yang dibahas dalam diskusi ini berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan perpustakaan agar menjadi lebih aksesibel. selain itu juga membahas soal rencana kolaborasi program antara SAPDA dan komunitas Braille’iant Yogya.

Beberapa saran muncul dari mahasiswa difabel yang terlibat dalam diskusi. Saran menarik yang muncul adalah menjalin kerja sama dengan Yayasan Mitra netra Jakarta sebagai sebuah lembaga yang lebih dahulu memiliki perpustakaan yang ramah bagi difabel netra. lembaga ini juga secara rutin memproduksi audio book dan SAPDA dapat bekerja sama untuk mendapatkan beberapa buku audio yang dibutuhkan. selain itu, muncul pula saran tentang pengadaan alat pembaca buku audio yang disebut daisy Reader. Alat ini mampu membaca berbagai format buku seperti audio books berformat MP3, bahkan dapat pula membaca e-book. Alat ini juga mampu menandai halaman-halaman tertentu sehingga difabel netra atau pembaca tidak kesulitan untuk membaca dan mencari point-point penting. Tambahan yang menarik dari mbak Tanti, mahasiswa jurusan Sejarah di UIN ini menyampaikan hambatannya dalam menggali informasi, data serta referensi dalam literasi sejarah kuno, karena kondisi buku yang sudah tidak layak untuk discan. Juga tentang siswa netra yang kuliah di jurusan Agama Islam, dengan huruf arab yang tidak bisa terbaca itu akan sangat menyulitkan bagi mereka. Ia juga menyampaikan, apa yang menjadi konsep dari pendirian perpustakaan aksesibel SAPDA ini? Untuk buku-bukunya kategorinya apa? Pendidikan atau apa? Dari pihak SAPDA menjawab, untuk buku-buku yang ada masih bersifat umum, yang relevan dengan isu lembaga.

Continue reading DISKUSI KEBUTUHAN/ FASILITAS DASAR PERPUSTAKAAN AKSESIBEL SAPDA

ROADSHOW PROGRAM SRHR DALAM PENJANGKAUAN DI BEBERAPA KOMUNITAS/ JARINGAN LEMBAGA SAPDA

SAPDA dalam Program SRHR telah melakukan diskusi dan penyuluhan kesehatan reproduksi kepada remaja dan orangtu yang memiliki anak disabilitas. Diskusi dan penyuluhan SRHR di lakukan ke beberapa jaringan/ komunitas, baik yang berada di kota Jogja, maupun di Kabupaten Bantul.

Dikarenakan belum banyak perkumpulan / komunitas orangtua yang memiliki anak disabilitas maka lembaga SAPDA berinisiatif bekerjasama dengan beberapa SLB dan FKKADK baik yang ada di Kota Jogjakarta dan Kabupaten Bantul dalam melakukan diskusi dan penyuluhan Kesehatan Reproduksi kepada orangtua yang memiliki anak disabilitas. Untuk mengetahui adanya perubahan pengetahuan dan masukan tentang kesehatan reproduksi (SRHR) yang sudah diberikan, maka team SRHR melakukan kunjungan kebeberapa SLB yang berada di kota Jogja dan Kabupaten Bantul.
Tujuannya adalah:
1. Mempererat silahturahmi antar jaringan / komunitas dengan Lembaga SAPDA
2. Mengetahui perkembangan pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada jaringan / komunitas
3. Mengetahui kebutuhan / permasalahan terkait issue Kesehatan Reproduksi pada Jaringan / komunitas
Output yang didapatkan adalah:
1. Adanya jalinan kerjasama yang baik antara Jaringan / komunitas dengan Lembaga SAPDA
2. Adanya peningkatan pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada Jaringan / Komunitas
3. Adanya sharing dan masukan kepada Lembaga SAPDA terkait program Kesehatan Reproduksi

Continue reading ROADSHOW PROGRAM SRHR DALAM PENJANGKAUAN DI BEBERAPA KOMUNITAS/ JARINGAN LEMBAGA SAPDA

PEMETAAN TENTANG AKSESIBILITAS BAGI KOMUNITAS DIFABEL DAN MANULA DI KOTA JOGJA

Dalam acara diskusi menyoroti masalah aksesibilitas yang di alami oleh komunitas difabel yang ada di kota Jogja, baik fasilitas gedung maupun pelayanan bagi difabel. Hasil dari Team Peneliti Geografi UGM, menemukan belum sepenuhnya aksesibel bagi difabel meliputi bangunan, lokasi dan tata letak , temuannya tersebut disoroti di beberapa bidang yaitu :
Transpotasi : Ramp pada halte trans jogja sudah curam diisi palang pintu segi tiga sehingga pemakai kursi roda tidak bisa masuk, ruang gerak di halte sangat sempit tidak bisa untuk rotasi bagi pemakai kursi roda, jarak antara halte dengan bis kurang rapat (ada celah /harus lompat rentan jatuh bagi tuna netra, tuna daksa). Belum adanya transportasi umum yang ramah bagi difabel, tidak ada petunjuk/ informasi/sinyal suara/alarm untuk difabel ruwi dan netra sehingga mereka salah turun atau salah jurusan. Bagi Difabel untuk bisa mengakses transpotasi umum biaya lebih mahal (taksi, harus ojek).
Kesehatan : Bangunan banyak yang belum ada Ram, kalaulah ada belum sesuai standar dan tidak ada pegangan. Untuk loket pelayanan tidak satu tempat (loket layanan jamkes, loket obat) sehingga harus jalan jauh kesana-sini, lantai licin, kamar mandi belum aksesibel, parkir jauh, lobang loket kecil padahal untuk ruwi komunikasi harus lihat wajah.

Continue reading PEMETAAN TENTANG AKSESIBILITAS BAGI KOMUNITAS DIFABEL DAN MANULA DI KOTA JOGJA

KEKERASAN SEKSUALITAS TERHADAP DISABILITAS DAN PEREMPUAN

Hari Rabu dan Kamis, tanggal 15 dan 16 Januari 2014 SAPDA mengadakan seminar/ training mengenai”Kekerasan Seksualitas Terhadap Disabilitas dan Perempuan” yang bertempat di lantai dasar kantor BPPM Badran Yogyakarta. Kegiatan yang diikuti oleh 15 peserta ini mendapat antusias yang sangat tinggi dari para peserta, karena sebagian besar dari peserta ada yang belum pernah mengikuti training yang mengangkat issue tentang kekerasan seksualitas terhadap disabilitas dan perempuan.

Di hari pertama, fasilitator training, fasilitator memaparkan penjelasan mengenai sejarah perkembangan istilah disabilitas, yaitu : pada tahun 1946 penyandang disabilitas disebut dengan Penderita Cacat yang diusung oleh Dr. Suharso; tahun 1990 menjadi Penyandang Cacat; tahun 1996 menjadi Difabel (yang berasal dari Different Ability, disingkat menjadi difabel) yang diusung oleh Mansyar Faqih yang merupakan aktivis sosial; dan yang terakhir pada tahun yang sama, 1996 oleh PBB istilah tersebut diganti menjadi Disabilitas. Setelah itu, fasilitator juga menjelaskan beberapa jenis disabilitas, diantaranya : Tuna Netra, Tuna Daksa, Tuna Rungu, Tuna Wicara, Tuna Grahita, dan juga Down Syndrome. Di akhir training hari pertama, fasilitator memberikan suatu PR (tugas) berupa satu pertanyaan yang akan menjadi pokok bahasan di hari ke 2.

Continue reading KEKERASAN SEKSUALITAS TERHADAP DISABILITAS DAN PEREMPUAN