Skip to main content

ROADSHOW TIM WDCC SAPDA KE SUMBA NTT

Tim WDCC melakukan perjalanan ke Sumba NTT  27 Februari s/d. 3 Maret 2017 yang diwakili oleh Rini Rindawati dan Nina Musriyanti. Tujuan perjalanan ini untuk menggali informasi bagaimana pelayanan yang diberikan oleh stakeholder bagi perempuan disabilitas yang mengalami kekerasan. Informasi didapat lewat wawancara ke lembaga penyedia layanan antara lain: UPPA Polres Sumba, DP3AP2KB, Kejaksaan Negeri, Dinas Sosial, Rumah Aman, Rumah Sakit, Yayasan Bahtera, Save the Children dan Forum Peduli Difabel. Selain wawancara dilakukan juga workshop Penyusunan Draft Panduan Pemulihan Bagi Perempuan dengan Disabilitas yang Mengalami Kekerasan.

Foto Story Sumba NTT

SOSIALISASI KOTA LAYAK ANAK

Dalam berjejaring, SAPDA mengikuti beberapa kegiatan diluar fokus isu lembaga, hal ini sebagai wujud konsistensi SAPDA dalam melakukan proses perluasan jaringan dengan berbagai pihak.

Dalam hal ini, SAPDA turut berpartisipasi di kegiatan sosialisasi dari KPPPA-BPPM DIY tanggal 15 Maret 2017 di hotel sahid Jaya Babarsari. Peserta yang hadir sekitar 80 orang, terdiri dari lembaga, organisasi perempuan, organisasi profesi, medis (rumah sakit/puskesmas) dan dinas terkait.

Kegaiatan sosialisasi ini merupakan lanjutan rangkaian kegiatan pelatihan bagi tenaga kesehatan dan bidan dalam mendukung program kota layak anak dari KPPPA-BPPM DIY. Tujuan dari kegiatan ini diharapkan para peserta bisa berbagi informasi dalam lingkungan keluarga sendiri dan masyarakat sekitar agar lingkungan bebas asap rokok demi kesehatan anak-anak generasi bangsa.
Untuk bayi baru lahir dianjurkan makanan pertama ASI, bukan susu formula dan dilanjutkan ASI eklusif selama 6 bulan. Di lingkungan kerja juga dianjurkan tiap instansi menyediakan ruang Laktasi (ruang menyusui) bagi karyawan perempuan untuk menyusui atau memeras ASI.
Dalam proses tumbuh kembang anak diharapkan juga memperhatikan aspek pemberian gizi dan nutrisi yang cukup, jangan berlebihan agar tidak terjadi kurang gizi dan obesitas (kelebihan berat badan).
Informasi tersebut diatas sangat penting untuk diinformasikan kembali ke berbagai pihak yang terdekat, contohnya keluarga, agar dapat menyeimbangkan pola hidup dan memperhatikan kesehatan. (Tari)

PENDATAAN DISABILITAS DI DESA MARGOREJO

Proses pendataan penyandang disabilitas terus dilakukan, guna mendapatkan data valid yang diverifikasi agar disabilitas mendapatkan haknya. SAPDA bersama relawan dari mahasiswa UGM ditemani oleh perwakilan Karang Taruna dan komunitas disabilitas di Tempel melakukan proses pendataan di Desa Margorejo, Tempel Sleman Yogyakarta tanggal 11 Maret 2017.
Saat melepas relawan pendataan, Tri, Kesra Kecamatan Tempel, menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan dari UGM dan SAPDA beserta PPDI Kecamatan Tempel untuk melakukan pendataan bagi disabilitas di Kecamatan Tempel. Menurutnya kegiatan ini cukup besar artinya bagi pemerintah, karena akan menghasilkan data yang cukup valid dengan berinteraksi langsung ke grass root.
Sebelum melakukan pendataan, dilakukan sosialisasi ke para dukuh pada saat agenda rapat para dukuh tanggal 9 Maret 2017. Dalam sosialisasi tersebut, para dukuh di Desa Margorejo diharapkan dapat menyampaikan kepada para kader desa dan karang taruna untuk membantu pelaksanaan pendataan, karena mereka-lah yang mengetahui keberadaan dan alamat rumah disabilitas.

Awal proses pendataan di lapangan adalah menuju ke rumah pak dukuh untuk mencari data awal di dukuh masing-masing. Setelah itu mencari informasi ke masing-masing dukuh apakah ada data disabilitas yang belum masuk, apabila belum ada nantinya dukuh akan menghubungi Karang Taruna dan kader desa utk mendapatkan data di lapangan sesuai dengan data yang dimiliki oleh dukuh. Setelah sampai di lapangan dilakukan proses wawancara, data terkumpul dan kembali ke pos untuk memasukkan data ke data input. Data yang didapat adalah 14 disabilitas baru, ada beberapa data yang tidak sinkron, dikarenakan ketidaksesuaian antara data acuan dan data di lapangan.

Namun karena informasi awal sosialisasi tidak sampai kepada kader desa dan Karang Taruna menyebabkan  pelaksanaan pendataan sedikit terkendala. Temuan ini menjadi bahan evaluasi bersama di dalam tim, semoga kedepan bisa mengantisipasi hal semacam ini.

Harapan ke depan setelah mendapatkan data tersebut, pemerintah desa mengetahui warganya yang mengalami disabilitas serta mengetahui persoalan dan kebutuhan mereka, sehingga pemerintah desa bisa memberikan program bagi disabilitas yang ada di wilayahnya masing-masing, untuk kemajuan mereka.

PELATIHAN KESPRO DAN SEKSUAL KOMUNITAS PPDK TEMPEL

Pelatihan Kesehatan Reproduksi dan seksual yang di adakan di komunitas temple pada hari kamis tanggal 23 Februari 2017 yang bertempat diruang pertemuan desa Mardikorejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman. Pelatihan ini di ikuti oleh 25 orang peserta 5 laki-laki dan 20 perempuan terdiri dari 7 penyandang disabilitas dan 18 orangtua atau pendamping. Acara dimulai jam 08.30 wib , diawali dengan sambutan kepala desa, desa mardikorejo.

(more…)

PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI DAN SEKSUALITAS KOMUNITAS PPDK TURI SLEMAN

Komunitas PPDK Turi bersemangat menghadiri kegiatan pelatihan Kesehatan reproduksi dan seksual yang di selenggarakan team panitia pengurus Turi yang bekerjasama dengan lembaga SAPDA pada hari Selasa 2I Februari 2017 di ruang rapat Desa Bangunkerto, Turi, Sleman. Pelatihan dimulali pada pukul 08.30 WIB dihadiri 9 peserta laki-laki, 17 perempuan terdiri orangtua anak difabel dan penyandang disabilitas usia produktif . Pelatihan juga dihadiri anggota polsek dan Seksdes desa Bangunkerto yang mewakili kepala desa yang tidak bisa hadir karena ada acara di kabupaten. Dalam sambutanya sekdes Bangunkerto mengucapkan terimakasih kepada SAPDA yang telah mendampingi saudara-sadara disabilitas yang ada di Bangunkerto. Pengetahuan kesehatan reproduksi sangat penting untuk dipahami bagi saudara kita disabilitas di Bangunkerto agar dapat meningkatkan kwalitas kesehatannya. Semoga setelah mengikuti pelatihan ini nanti ilmunya bisa diterapkan paling tidak di lingkungan keluarganya masing-masin. Diakhir sambutanya bapak sekdes juga menyampaikan program pemberdayaan bagi disabilitas di bangunkerto.

(more…)

BELAJAR MEMBUAT PHOTO STORY

SAPDA selalu mengembangkan ilmu untuk membuat sebuah kreasi dengan melakukan capacity building (CB) kepada staff.  Dalam rangka pembuatan sebuah laporan yang berbasis pada foto, maka lembaga SAPDA memberikan sebuah pelatihan khusus kepada staff dalam teknik pengambilan foto dan merangkai foto yang akan bercerita. Proses ini yang disebut dengan Photo Story. Pamungkas yang akrab dipanggil dengan mas Pam memfasilitasi pelatihan tersebut didampingi oleh Mukhotib selama dua hari, 7 dan 8 Febuari 2017 di pendopo kantor SAPDA yang berlokasi di Pilahan, Rejowinangun, Kotagede Yogyakarta.

Photo Story berbeda dengan deskripsi naratif. Seorang dokumentator harus memiliki sense dalam mengambil sebuah gambar dengan teknik yang sesuai dengan etika pengambilan gambar, karena tujuan dari Photo Story adalah menceritakan sebuah kejadian/ proses/ kegiatan dengan beberapa foto yang dapat mewakili sebuah cerita. Untuk itulah, dalam menyusun Photo Story tidak membutuhkan serangkaian narasi yang panjang, namun dengan menampilkan foto-foto yang memuat beberapa kejadian yang ingin diceritakan. Fasilitator menyampaikan bahwa dalam pengambilan sebuah gambar harus mempertimbangkan hal sebagai berikut :

E : Entire (keseluruhan unsur yang akan difoto)

D : Detail (objek-objek tertentu yang dapat mendukung dalam menceritakan sebuah foto)

F : Frame (menentukan objek yang akan difoto dengan menggunakan teknik framing/ bingkai dalam pengambilan foto)

A : Angle (sudut pandang dari mana foto akan diambil)

T : Time (waktu/ proses kegiatan yang difoto)

Ke-5 hal diatas sangat penting dalam menghasilkan beberapa foto yang akan bercerita. Tidak mudah dalam menyusun dokumen Photostory, perlu beberapa langkah, seperti menentukan tema; riset kecil terkait tema yang akan diangkat; mempersiapkan alat dokumentasi; mengambil gambar/ memotret; dan yang terakhir adalah menyeleksi foto. Setelah beberapa proses tersebut dilakukan, dapat memulai penyusunan dokumen Photo Story.

Selain belajar teori, staff juga melakukan praktik dalam teknik pengambilan gambar, merangkai foto dan memberikan caption tentang foto yang diambil. Selain itu, praktik yang terakhir adalah mencoba menyusun satu contoh kegiatan yang telah dilakukan dalam menjalankan program.

Diharapkan dengan adanya CB Photo Story dapat meningkatkan kapasitas staff dalam teknik pengambilan gambar/ foto dan dapat menuangkan foto-foto tersebut menjadi sebuah cerita menarik. (dhinda)