Skip to main content

PERINGATAN HARI KARTINI DI SLB N 2 YOGYAKARTA

Setiap tahun tepatnya tanggal 21 April adalah hari peringatan R. A. Kartini atau lebih dikenal dengan Hari Kartini, dimana Kartini merupakan seorang wanita yang gigih dalam memperjuangkan hak kaum perempuan. Dalam peringatan ini banyak institusi akademis maupun kelembagaan serta instansi pemerintah turut serta merayakan hari besar tersebut dengan mengadakan berbagai macam rangkaian acara maupun kegiatan yang menarik, seperti di SLB N 2 Yogyakarta yang tiap tahunnya menyelenggarakan peringatan Hari Kartini dengan beragam rangkaian acara. Dalam puncak acara yang diselenggarakan pada hari Jumat 21 April 2017 di aula SLB N 2 Yogyakarta, SAPDA turut meliput kegiatan tersebut dan mendokumentasikan kegiatan fashion show yang tengah berlangsung.

Tema yang diusung dalam peringatan Hari Kartini tahun ini adalah SEMANGAT MERAIH PRESTASI TINGGI. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan sebelum puncak acara yaitu lomba yang sifatnya olahraga dan seni. Rangkaian lomba seperti lomba bowling, yaitu bowling kecil-kecilan, lomba mewarnai dan menggambar untuk anak-anak, kemudian puncak acara ada fashion show dan berfoto dengan backdrop yang sudah disediakan oleh pihak sekolah dan didekorasi minimalis. Sebagai puncak acara diikuti oleh semua siswa dan mendapat antusias yang tinggi baik dari siswa, guru hingga orang tua siswa. Salah satu siswa yang ditemui bernama Akmal (mengalami disabilitas Down Syndrome) mengatakan sangat senang mengikuti acara ini, dan ia mendapatkan 2 hadiah sekaligus. Melihat antusisme anak-anak yang tinggi dengan acara fashion show tersebut, Kepala Sekolah SLB N 2 Yogyakarta, Sri Muji Rahayu menyampaikan bahwa pihak sekolah sangat support dengan bakat yang dimiliki oleh anak-anak, terutama anak dengan disabilitas grahita yang mengalami hambatan intelektual.

Tiap tahunnya pihak sekolah mengadakan acara peringatan Hari Kartini, begitu juga hari besar nasional seperti Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Anak Nasional. Dalam peringatan Hari Kartini, seluruh siswa maupun guru mengenakan kostum adat Jawa. Para siswa tidak mengalami kesulitan dalam penyediaan baju adat Jawa karena tiap hari Kamis Pahing sudah menjadi peraturan sekolah untuk mengenakan pakaian adat Jawa. Hal ini tidak lepas dari bantuan Pemerintah Kota Yogyakarta yang memiliki program JPD (jaring pengaman pendidikan daerah) sehingga sekolah mendapatkan support untuk biaya operasional dan biaya personal. Biaya personal ini diantaranya dikembalikan ke anak untuk kegiatan sekolah, misalnya pembelian seragam dan bantuan ini digunakan oleh anak-anak untuk memenuhi kebutuhan pengadaan baju adat Jawa. Banyak orang tua pun sangat mensupport kegiatan ini, mereka seakan menginginkan anak-anak mereka untuk tampil terus di pentas fashion show.

Di sisi lain, ada harapan tersendiri dari pihak sekolah maupun orang tua siswa dari penyelenggaraan kegiatan ini. Perwakilan dari sekolah, Sri Muji Rahayu mengungkapkan memiliki harapan yang besar kepada anak-anak didiknya. Ia melihat anak-anak memiliki bakat seni yang luar biasa sehingga ia pun berharap bakat dan potensi mereka dapat di explore, menunjukkan kepada dunia luar bahwa mereka mampu berdiri di atas pentas. Oleh karena itu, ia memiliki sebuah keinginan, yaitu mewujudkan sekolah yang berbasis seni.

“..saya ingin mewujudkan sekolah berbasis seni, seni apapun. Ada seni rupa, seni musik, termasuk olahraga juga..” papar Sri Muji Rahayu yang sering disapa dengan panggilan bu Yayuk.

Salah satu orang tua siswa yang ditemui, Sri Wahyuni yang notabene pengurus POTADS (Persatuan Orang tua Anak dengan Down Syndrome) berharap agar keluarga yang memiliki anak dengan disabilitas bisa mensupport anaknya untuk keluar, tidak di rumah dan tidak boleh diam di rumah, harus kenal dengan masyarakat walopun nmasyarakat masih memiliki stigma negatif dan diharapkan ke depannya pemerintah lebih memperhatikan lagi anak-anak seperti ini. Selain itu ia berharap, konsep ke depannya dalam peringatan Hari Kartini kegiatannya outdoor agar bisa mengkampanyekan isu disabilitas lebih luas. (Dhinda)