Sekolah Riset Disabilitas Angkatan 2: Perkuat Kapasitas Periset Penyandang Disabilitas untuk Advokasi dari Wilayah Indonesia Timur

Gambar menunjukkan foto bersama seluruh peserta kelas intensif SAPDA, perwakilan KONEKSI, perwakilan BRIN, dan tim SAPDA menggunakan kaos biru bertuliskan Disability Lead Research

Sebagai komitmen dalam memperkuat kapasitas periset penyandang disabilitas, SAPDA bermitra dengan CBM Global Indonesia, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Australia melalui program KONEKSI, menyelenggarakan Kelas Intensif Sekolah Riset Penyandang Disabilitas Angkatan 2 secara luring di Surabaya pada 4-6 Agustus 2026.

Angkatan kedua dari kelas intensif ini terdiri dari 15 penyandang disabilitas yang terpilih dari 115 pendaftar wilayah Indonesia Timur. Proses seleksinya dilakukan dengan tetap mempertimbangkan keberagaman latar belakang untuk memperkaya perspektif dan rekognisi pengalaman penyandang disabilitas dalam hal pengembangan riset advokasi. 

Dr. Marilyn Metta, Head of GEDSI and Partnership Strategy KONEKSI, menekankan bahwa “Kehadiran teman-teman sangat penting karena saat ini teman-teman mewakili Indonesia Timur dan juga 1 orang dari Kalimantan. Wilayah yang memiliki perspektif dan pengalaman yang berharga untuk memperkaya pembangunan dan inovasi di Indonesia.”

Proses ini menjadi ruang bagi peserta untuk mendapatkan masukan, bertukar pengalaman, serta memperkuat rancangan riset yang telah disusun di dalam proposal riset advokasi.

“Melalui jejaring penelitian dan kolaborasi, kita bersama-sama membangun hubungan yang kuat, sekaligus membangun metode penelitian yang inklusif. KONEKSI percaya bahwa pengalaman hidup dan perspektif yang dialami teman-teman akan menghasilkan data dan hasil penelitian yang benar-benar mencerminkan realitas kehidupan penyandang disabilitas,” tambah Marilyn.

Kegiatan ini masih tahapan awal dalam rangkaian pelaksanaan kelas intensif angkatan kedua. Nantinya peserta akan mengikuti berbagai tahapan lain agar lebih siap dalam memimpin riset dan menghasilkan data, narasi, dan rekomendasi kebijakan yang sesuai dengan pengalaman hidup disabilitas.

Salah satu peserta yang berasal dari Banggai, Sulawesi Tengah, menyebut “Terakhir saya riset itu tahun 2016, yaitu skripsi. Terus di sini saya mendapatkan banyak point of view, berbagai macam input seperti teknis penulisan yang baik dan benar, memberikan keilmuan yang kaya akan hal-hal baru, contohnya adalah seperti apa sih proposal yang layak yang akan dikembangkan.”

Dalam jangka panjang, harapan Kelas Intensif Sekolah Riset Penyandang Disabilitas Angkatan 2 ini adalah mampu mendorong hadirnya lebih banyak periset penyandang disabilitas. Terutama penyandang disabilitas dari Indonesia Timur. 

Dengan semakin banyaknya penyandang disabilitas yang terlibat dan memimpin proses riset, diharapkan dunia riset menjadi lebih merepresentasikan perspektif penyandang disabilitas secara lebih bermakna dalam mendorong perubahan kebijakan dan pemenuhan hak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *