RESENSI BUKU SAPDA

Sudahkah kita membaca buku hari ini?
Pertanyaan yang tidak memberatkan, akan tetapi jika dilakukan sebagaimana mestinya sebagian besar orang pasti akan merasa membaca adalah sebuah ektifitas yang membosankan.
Tidak akan membosankan, ketika tema dan konten buku sangat menarik. Inilah salah satu aktifitas yang dilakukan oleh SAPDA, membaca buku dan dituliskan kembali isi buku. Aktifitas ini disebut dengan resensi buku.
Kegiatan ini dilakukan untuk membagi pengetahuan dari buku-buku tentang isu-isu masa kini, yang memang masih dalam perdebatan maupun yang masih dalam kajian publik. Berikut hasil resensi SAPDA yang sudah dilakukan :
PEREMPUAN DAN TANTANGAN MEREBUT KUASA
Oleh: Annisatul Ummah, Mahasiswa KPI Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Revolusi sejarah yang terjadi berkat feminisme adalah revolusi yang paling sukses dan paling tidak berdarah selama hidup umat manusia. Anda hanya harus memalingkan muka ke arah perubahan-perubahan dalam masyarakat untuk mengenali feminisme sebagai penyebabnya.
(Naomi Wolf, Geger Gender, hlm 87)
Naomi memulai buku ini dengan kisah Anita Hill yang menggemparkan kondisi politik Amerika tahun 1991 silam. Perempuan yang juga seorang Dosen di fakultas Hukum Universitas Oklahama ini menceritakan kasus pelecehan seksual yang menimpa dirinya. Ia yang dibantu temannya Harrient Grat, seorang penasihat dalam panitia senat yang mengetes calon Hakim Agung ketika itu, menceritakan apa yang menimpa dirinya ketika bekerja di Komisi Kesetaraan Kesempaan Kerja (EEOC).
Hebohnya, pelaku yang melakukan pelecehan seksual itu, sesuai dengan pernyataan Hill, adalah seorang calon Hakim Agung Amerika Serikat. Clarence Thomas namanya. Dan pernyataan Hiil tersebut tepat disampaikan ketika dengar pendapat semacam tes untuk calon Hakim Agung dan seminggu sebelum pemungutan suara untuk Thomas.
Memang pada mulanya, kasus Hill ini ditekan agar tak naik kepermukaan. Namun, mata wartawan cukup jeli. Seorang wartawan bernama Timothy Phelps berhasil melacak keberadaan Anita Hill dan menyiarkan kisahnya di Newsday. Hill pun juga diwawancarai untuk acara di Radio Nasional. Hingga selanjutnya Hill sendiri mengadakan konferensi pers di Oklahoma, yang disiarkan oleh stasiun TV Internasional CNN.


Akibatnya, para senator kelimpungan. Mereka tak kuasa menahan arus gonjang-ganjing yang menyudutkan proses pemilihan calon Hakim Agung tersebut. Masyarakat pun, yang memiliki akses pada senator, ribut mempertanyakan kebenaran kasus Hill tersebut dan sikap para senator kepadanya. Diceritakan, kantor senator Daniel Patrick Moynihan “diserang” 3000 kali panggilan telepon dari masyarakat. Operator telepon milik senat kewalahan. Dan para senator dipaksa bergerak untuk menunda pemungutan suara yang tadinya sudah terjadwal.
Apakah berakhir disitu? Tidak. Justru inti pembicaraan buku ini baru akan dimulai.
Kasus Hill Thomas ini berlanjut dengan bangkitnya kemarahan masyarakat perempuan Amerika. Dimana-mana kasus Hill dibicarakan. Media dan koran-koran sibuk mengangkat kasus Hill dengan judul-judul yang dicetak besar. Ini benar-benar gempa politik untuk Amerika Serikat. Sebuah goncangan yang disebut sebagai “efek Anita Hill”. Dan dampak pertama dari Efek Anita Hill ini dapat kita lihat pada pemilihan umum Amerika satu tahun setelahnya. Kemudian akibat selanjutnya adalah wacana feminisme yang tak dapat dibendung lagi di Amerika Serikat dua tahun setelahnya.
Pemilu Amerika Serikat tahun 1992 dapat dikatakan sebagai sebuah geger gender dan runtuhnya kekuasaan “tirani” maskulinitas di Amerika. Pemilu 1992 juga dapat dikatakan sebuah kemenangan besar bagi calon-calon kandidat perempuan. Ini terbukti dengan program dan agenda-agenda pemerintah pasca pemilihan umum tersebut. Amerika Utara saja telah memenangkan banyak agenda pemerintahan pro-perempuan, diantaranya:
• Akta cuti keluarga (The Family Leave Act). Lolos setelah 12 tahun diperjuangkan. Undang-Undang ini memberikan hak bagi para orangtua untuk mendapatkan cuti selama empat bulan untuk merawat bayi atau kerabat yang sakit.
• Protes keras atas Amandemen Hyde yang menutup keran dana layanan kesehatan bagi perempuan yang memerlukan aborsi dengan alasan kesehatan atau akibat perkosaan.
• Anggaran bagi penelitian-penelitian tentang kanker payudara dijadikan dua kali lebih besar.
• 37 persen pejabat tinggi terdiri dari perempuan, diantaranya Ketua Dewan Penasihat Ekonomi.
• Hilangnya aturan yang melarang perempuan menjadi pilot pesawat tempur.
• Anggaran untuk tahun 1993 dalam bidang riset kesehatan perempuan meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 1992. Selain itu juga dilakukan pengikutsertaan perempuan sebagai subjek berbagai riset kedokteran yang semula mengabaikannya.
• Dan lain-lain (lebih lanjut, lihat halaman 41-45).
Feminisme dan Tantangan gerakannya
Perempuan telah nyata memiliki andil besar dalam panggung kekuasaan. Peran yang besar tersebut, baik dalam dunia politik maupun kebudayaan, ikut pula mengembangkan wacana feminisme yang mendukungnya. Merombak sistem “Tirani Maskulinitas” hingga terciptanya kesadaran gender memang salah satu agenda feminisme. Namun, mesti diketahui bahwa visi itu takkan mudah saja terlaksana. Naomi Wolf, bahkan mengatakan tantangan feminisme –baik sebagai sebuah ideologi maupun sebagai platform gerakan- memiliki banyak sekali tantangan. Dan tantangan yang tak kalah besarnya juga muncul dari perempuan yang ingin diperjuangkan gerakan feminisme tersebut.
Secara jujur dan blak-blakan Naomi menggambarkan kepada kita lewat bukunya bermacam tantangan yang sedang dan akan dihadapi gerakan feminisme, mulai dari abad 21 ini. Diantara tantangan tersebut adalah:
• Terbentuknya anggapan umum bahwa feminisme dan lesbianism adalah sama, serta memperkuat pandangan orang bahwa gerakan perempuan bersifat anti-keluarga dan anti-lelaki.
• Liputan media massa tentang gerakan perempuan bersifat pilih kasih dan bengkok-bengkok.
• Sebagian feminis (bisa dimengerti) bersikap kasar terhadap media massa sebagai konsekuensi liputan-liputan yang mengacaukan citra feminisme tadi.
• Akibatnya ada kecenderungan untuk mencari rasa aman dan nyaman bagi para feminis, dengan cara tetap tinggal di pinggiran, berkotbah hanya pada ‘para pengikut’ saja. Dan berkembanglah mentalitas ‘klik’.
• Peminggiran dan marginalisasi gerakan feminisme diikutsertakan oleh penyiaran beberapa teori yang kedengarannya bagus dan tepat di atas kertas, tapi mustahil dipraktikkan dan tidak masuk akal menurut kebanyakan laki-laki maupun perempuan. Teori-teori itu dan posisi-posisi yang mereka wakili, ditolak dalam ruang-ruang perdebatan sosial.
• Penolakan itu membeku jadi kutukan yang kaku, diiringi oleh ketakutan akan perdebatan yang akhirnya memperlemah kesehatan intelektual dalam gerakan perempuan, serta mempersempit pintu masuk ke dalam gerakan itu.
• Pengulangan perdebatan-perdebatan di media massa ke ruang-ruang akademis, atau sebaliknya, dengan bahasa-bahasa yang susah dipahami oleh orang-orang awam di luar lingkungan akademik.
• Anggapan yang mengukuhkan persepsi awal tentang feminisme sebagai sebuah gerakan yang khusus untuk kulit putih, khususnya untuk kelas menengah atau elitis.
• Dan lain-lain (lebih jelasnya lihat bab 6: Batu-batu Sandungan Gerakan Feminisme).
Jika diperhatikan, pembahasan Naomi dalam buku ini sangatlah jeli dan rinci. Ia mengatakan bahwa salah satu kesalahan gerakan perempuan dan feminisme adalah menerjemahkan teori yang terlalu harfiah. Ia menulis,
Sejak 1970-an hingga hari ini, sejumlah teori telah muncul, membuka jalan ke arah pemahaman kita tentang gender. Tetapi saat tiba di dalam percakapan-percakapan populer, teori-teori itu diterjemahkan secara harfiah; diedarkan dalam bentuk cuwilan-cuwilan kalimat, dengan bermacam-macam kualitas dan karakter dari yang ‘omong-kosong’ sampai ke yang ‘mengancam’. Semua ini membuat gerakan perempuan makin terasing dari perempuan-perempuan lainnya.
Salah satu contoh teori yang acap kali diartikan harfiah oleh banyak orang seperti : Feminis ingin agar lelaki sama dengan perempuan. Kebanyakan tulisan feminis memisahkan anggapan bahwa perbedaan jenis kelamin adalah ‘berlawanan’ dan pembawaan sejak lahir. Perbedaan jenis kelamin disebutnya “Fiksi sosial tentang gender”. Namun gagasan ini memasuki perbincangan populer dalam bentuk “Feminis ingin agar perempuan jadi seperti laki-laki”. Gagasan ini tidak menarik bagi banyak perempuan maupun laki-laki. Malah lebih lagi, gagasan tadi diringkas menjadi “Feminis ingin agar lelaki dan perempuan jadi sama. Phyllis Schlafly dan para aktivis anti feminis lainnya mengaduk-aduk sumber keresahan yang satu ini sepanjang 1970-an, menciptakan mitos-mitos seperti misalnya bahwa feminis memimpikan adanya “kamar kecil satu untuk semua”. Ini meninggalkan bekas yang mendalam, orang yang tidak mendalami feminisme jadi punya kesan bahwa feminis bernafsu untuk menghapus perbedaan jenis kelamin pikiran ini bisa meresahkan banyak orang (bisa dilihat halaman 182 buku ini).
Kejelian Naomi dalam membedah semangat perempuan dan feminisme telah mempermudah kita untuk mengenali gerakan perempuan dan ideologi feminis yang diperjuangkannya. Dari buku ini kita dapat mengintrogasi pula setiap model dan motif gerakan-gerakan yang memperjuangkan perempuan. Karena, lewat Naomi, kita mengetahui tidak semua gerakan feminisme mempunyai militansi dan orientasi sama. Naomi membaginya membagi dua model, Feminisme Korban dan Feminisme Kekuasaan.
Feminisme Korban adalah paham yang mengemuka saat seorang perempuan mengais kekuasaan lewat jati diri ketidakberdayaan. Feminisme ini mengadopsi luwesnya ketidakberdayaan dan memantulkannya ke dalam cermin pencitraan aturan tak tertulis tentang apa itu feminis. Menurut Naomi, feminisme korban memperlambat kemajuan perempuan, merintangi pengetahuan akan diri sendiri, dan bertanggung jawab atas sebagaian besar pila pikir yang tidak konsisten, negatif, sovinistis, dan dalam segala hal regresif atau membawa kemunduran.
Namun berbeda dengan feminisme Korban, feminisme kekuasaan menyertakan perempuan lebih jauh. Ideologi yang dijunjungnya luwes dan inklusif, bersifat melingkupi. Intisarinya adalah:
1. Perempuan dan laki-laki sama-sama punya arti yang besar dalam kehidupan manusia.
2. Perempuan berhak menentukan nasib sendiri.
3. Pengalaman-pengalaman perempuan punya makna, bukan sekadar omong-kosong yang tak penting.
4. Perempuan berhak mengungkapkan kebenaran tentang pengalaman-pengalaman mereka.
5. Perempuan layak menerima lebih banyak lagi segala sesuatu yang mereka tak punya hanya karena mereka perempuan: rasa hormat dari orang lain, rasa hormat terhadap diri sendiri, pendidikan, keselamatan, kesehatan, keterwakilan, dan keuangan (lihat halaman 204).
Hanya dengan meneliti kesadaran dan orientasi kita dapat memantapkan diri dalam gerakan perempuan. Naomi mengajarkan kita dalam buku ini, dan kita benar-benar beruntung buku ini telah diterjemahkan dan diedit dengan baik.