Category Archives: Kolom

NARASI HASIL SIARAN BULAN JUNI 2014

Hari : Sabtu, 14 Juni 2014

Narasumber : Anis Sri Lestari, S. Pd

Tema : Pendidikan anak CP (cerebral palsy)

Bersama dengan Syafrina, bu Anis menyampaikan informasi mengenai CP (cerebral palsy). Bu Anis mengajak Syafrina, seorang penyandang CP yang telah berhasil menjadi seorang mahasiswa di UNY jurusan Pendidikan Luar Biasa dan saat ini sedang dalam proses mendaftarkan S2 di UIN Yogyakarta. Syafrina menyandang CP sejak lahir, namun karena penanganan yang tepat dan continue oleh orang tuanya maka ia pun dapat melanjutkan tingkat pendidikannya. Ia pun bercerita mengenai perjalanan akademisnya dari TK, SLB, SMP, SMA sampai dengan jenjang perguruan tinggi. Ia juga sudah menulis beberapa tulisan dan telah sering dimuat di surat kabar. Saat ini Syafrina mengajar di SLB Yapenas sudah 4 tahun ini. Bu Anis memberikan definisi mengenai CP, yaitu gambaran klinis kondisi seseorang yang diakibatkan luka pada otak, sehingga dapat mengakibatkan kelumpuhan dan lemah, dalam kondisi penyimpangan fungsi gerak. Bu Anis yang mana memiliki anak penyandang CP menyampaikan tipe-tipe CP seperti tipe kaku, tipe ini seperti semi plagia, quadric plagia, ataksit (selalu gemetar), diskinetik (spontan), dan tipe campuran. Anak dari bu anis terlahir normal, namun karena pada fase perkembangan tumbuh kembang anak menderita diare dan panas tinggi, lalu koma selama tiga bulan. Setelah itu diketahui bahwa ada cairan di batang otaknya sehingga harus di operasi, ini disebut meninghitis atau radang otak. Dalam mengasuh anaknya, tidak bisa sembarang orang yang merawatnya, karena anaknya akan memberikan respon berbeda jika tidak sesuai dengan keinginannya. Dahulu, pada setiap harinya anaknya bisa 15 kali terkena kejang, namun karena penanganan intensif, saat ini hanya 2 sampai 3 kali kejang per harinya. Anak CP dengan seperti ini, kejang terjadi tanpa sebab apapun, jadi orang tua yang yang harus mengenal sejak awal. Sudah berobat kemana-mana, sampai yang alternative pun sudah di coba, namun memang belum ada hasil yang maksimal, maka dari itu sekarang hanya menerima dan menunggu keadaan segera membaik. Yang paling penting saat ini adalah bagaimana membuat anaknya stabil, karena apabila dalam kurun waktu selama 3 bulan ini tidak mengalami panas tinggi itu sudah sangat baik menurut penyampaian bu Anis. Jumlah penelpon 4 orang.

NARASI HASIL SIARAN BULAN MEI 2014

Hari : Sabtu, 1 Mei 2014
Narasumber : Sutijono (staff IC SAPDA)
Tema : Komunitas dampingan SAPDA

Sutijono, yang akrab dipanggil dengan pak Abas adalah salah satu dari staff SAPDA yang bergabung pada bulan November 2013. Pak Abas yang mengalami polio saat umur tiga tahun ini menjadi staff IC (inclusive social) dengan tugas melakukan pendampingan kepada komunitas-komunitas SAPDA baik yang berada di daerah Yogyakarta maupun diluar daerah. Saat ini jumlah komunitas dampingan SAPDA menurut daerah antara lain : Yogyakarta 2 kelompok, Sleman : 2 kelompok, dan yang diluar daerah masing-masing adalah Purworejo, Magelang, Klaten, Sukoharjo. Hal yang didapatkan oleh pak Abas sangat banyak, pada mulanya belum mengetahui komunitas-komunitas di luar SAPDA, namun karena bergabung di lembaga SAPDA ia semakin mengetahui komunitas dan kelompok-kelompok. Dalam tugasnya, seorang IC harus melakukan pendampingan secara organisasi, disebabkan di daerah-daerah komunitas belum paham mengenai organisasi dan belum banyak pengetahuan di bidang ini dengan tujuan agar mereka paham mengenai tugas dan fungsi pengurus seperti apa. Reaksi yang mereka berikan sangat positif, sangat senang dengan pendampingan SAPDA karena mereka juga membutuhkan arahan dalam mengelola organisasi, harapan ke depannya agar mereka bisa menjalin jaringan lebih luas. Pendampingan ini pun akan memberikan kapasitas untuk berorganisasi dan berjejaring serta bersosialisasi. Saat ini SAPDA sedang melakukan riset bersama Bapeljamkesos mengenai pemenuhan fasilitas disabilitas, dan kegiatan yang lain adalah adanya mahasiswa-mahasiswa dari UNRIYO yang magang di SAPDA. Menurut pak Abas, pemahaman disabilitas harus diberikan kepada masyarakat sejak dini, karena apabila nantinya ada anggota keluarga yang disabilitas maka tidak harus malu dengan keadaan itu. Selama ini tidak ada dan belum menemukan pengalaman pahit, karena kita saling membutuhkan antar sesama. Jumlah penelpon interaktif berjumlah 3 orang.

 

Hari : Sabtu, 17 Mei 2014
Narasumber : Yulianto
Tema : Kiat dan bagaimana berolahraga bagi penyandang disabilitas

Yulianto adalah seorang atlet tenis lapangan dengan kursi roda. Umur 2 tahun terkena panas, dan mengalami polio. Yulianto yang akrab disapa mas Yuli ini adalah seorang ketua FPDB (forum peduli difabel Bantul) serta merangkap sekertaris NPC (National Paralympic Comitte) Bantul. Tahun 2012 mas Yuli pernah mewakili olahraga bulu tangkis di Riau, namun tahun 2013 mas Yuli menjuarai lomba tenis lapangan dengan kursi roda di Jakarta. Pada awalnya mas Yuli ingin mendalami olahraga bulu tangkis dengan kursi roda, namun karena ajang pertandingannya masih jarang, maka beliau beralih ke tenis lapangan. Untuk anggaran pertandingan DKI Club itu sendiri berasal dari sponsor. Mas Yuli memiliki tujuan untuk menggeluti olah raga ini, yaitu untuk menjaga kesehatan, menjalin persaudaraan, bisa menjadi prestasi dan menghasilkan bonus (bonus dari penghargaan bisa untuk membantu penghidupan dirinya). Dalam melakukan olahraga tenis lapanagan ini awalnya beliau kesulitan karena tidak ada yang megarahkan, namun ada TOT di Jakarta, dilaksanakan untuk melakukan pelatihan singkat mengenai tenis lapangan. Untuk aturan dengan tenis lapangan orang non disabilitas dan yang berkursi roda berbeda, kalau yang non itu hanya sekali pantulan, maka yang kursi roda memerlukan hitungan dua kali pantulan. Perlu tenaga extra untuk berolahraga tenis lapangan dengan kursi roda, maka dari itu alat yang digunakan bukan kursi roda biasa, yang ini lebih ringan dan mahal harganya sekitar 23 juta rupiah. Untuk mendukung itu semua, mas Yuli menyarankan utnuk latihan terus agar lebih ahli dalam bidang ini dan juga menyarankan untuk lebih sering minum air putih, karena air putih itu menyehatkan. Penelpon interaktif berjumlah 6 orang.

 

Hari : Sabtu, 31 Mei 2014
Narasumber : Asep Kurniawan
Tema : Opini mengenai fasilitas publik di Yogyakarta

Akses fasilitas publik bagi disabilitas memang selalu jadi perbincangan hangat di tiap sudut kursi roda, kursi makan, kursi angkringan, kursi sekolah sampai kursi pemerintah. Di stasiun RRI PRO 1 Yogyakarta, SAPDA diberi kursi untuk berbicara tentang apa saja terkait disabilitas dua kali dalam sebulan. Pada hari Saptu, 31 Mei 2014, SAPDA bersama Mas Asep Kurniawan ( Ketua Paguyuban Bangkit Bersama ) mencoba mensharingkan tentang keluhan-keluhan teman-teman disabilitas terkait akses fasilitas publik seperti SIM, ATM, trotoar jalan dan halte. Menarik karena memang benar apa yang di sampaikan penelpon bahwa pemerintah harus di desak untuk memenuhi hak-hak penyandang disabilitas seperti akses fasilitas publik tersebut. Harapan teman-teman disabilitas kedepan adalah terwujudnya masyarakat dan fasilitas publik yang ramah terhadap kaum rentan ini.

NARASI HASIL SIARAN BULAN APRIL 2014

Hari : Sabtu, 19 April 2014
Narasumber : Sunardi

Pak Sunardi yang biasanya dipanggil dengan nama pak Wito ini awalnya adalah orang jalanan, namun hasratnya berubah ketika menolong orang-orang yang mengalami musibah, yaitu gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006 silam. Banyak orang yang mengalami bencana sehingga menyebabkan banyak orang menyandang disabilitas. Berangkat dari peristiwa tersebut maka pak Wito berniat untuk membantu teman-teman yang mengalami musibah. Teman-teman disabilitas banyak yang minder, karena pada umumnya teman-teman non disabilitas lainnya juga tidak merangkul mereka, padahal manusia dilahirkan sama, dan tidak berbeda. Maka dari itu, dalam hal pelaksanaan pemilu legislative kemarin pak Wito ikut membantu teman-teman khususnya tunanetra berkoordinasi membuat template agar memudahkan para penyandang tunanetra bergabung dan berpartisipasi dalam pemilu yang jujur. Koordinasi dan pembuatan template tersebut tidak lepas dari bantuan teman-teman tunanetra tersebut.

Sayangnya template yang telah dibuat tidak dibawa oleh pak Wito ke RRI untuk menunjukkan seperti apa template pemilu bagi tunanetra. Namun yang dijelaskan oleh pak Wito, template itu sudah dilubangi dan itu memudahkan teman-teman tunanetra dalam memilih wakil rakyat. Dalam hal ini, pemerintah seharusnya melakukan sosialisasi untuk memudahkan teman-teman tunanetra tidak bingung dan dapat memilih sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Pemilu kemarin membuat 625 template, untuk pembiayaan ada yang dari pemerintah karena pak Wito dan kawan-kawan membuat proposal. Pengerjaan template baru selesai jam 7 malam sehari sebelum pemilu dan langsung di packing dan didistribusikan. Kalau untuk teman-teman kita disabilitas di tempat umum juga masih jarang ramp utnuk yang kursi roda, alangkah baiknya apabila Jogja nantinya akan menjadi kawasan yang ramah disabilitas.

NARASI HASIL SIARAN BULAN MARET 2014

Hari : Sabtu, 1 Maret 2014

Narasumber : Presti Murni S (staff SAPDA)

Siaran pada awal Maret ini bertema prestasi dalam hidup dan kegiatan yang dilakukan oleh narasumber saat ini. Presti merupakan staff Litbang SAPDA, dan saat ini sedang menggarap program review 8 tahun SAPDA, mempersiapkan Renstra lembaga dan program lainnya. Presti merupakan seorang penyandang disabilitas netra sejak lahir. Namun dengan keterbatasan tersebut Presti tidak mudah menyerah, ia berusaha untuk mengenyam pendidikan sampai ke jenjang Perguruan Tinggi di UIN SUKA Yogyakarta. Presti yang memiliki tempat tinggal di Bantul ini sering melakukan pekerjaan rumah, ataupun bepergian dengan tanpa ditemani oleh keluarga. Presti pernah menjadi seorang guru PAI di SLB, namun karena hal tertentu Presti lalu bergabung di lembaga SAPDA. Dalam menjalani kehidupannya, Presti memiliki filosofi-filosofi yang inspiratif yang menjadikan hal terebut sebagai motivasi untuk dirinya sendiri. Salah satu contoh filosofi yang ia utarakan adalah “apabila kita ingin naik tanga, kita tidak bisa langsung menuju ke atas, tapi harus dari bawah, harus melalui proses”. Keinginan Presti dalam hidupnya adalah apabila ia menjadi seorang yang sukses suatu saat, ia akan dengan senang hati membantu penyandang disabilitas yang lain.

 

Hari : Sabtu, 15 Maret 2014

Narasumber : Yuni Dwi Kristanti (wiraswasta penjahit)

Untuk siaran di minggu kedua ini dengan tema Perjuangan Hidup menuju Kemandirian menghadirkan mbak Yuni, seorang disabilitas polio dengan kedua kakinya sejak umur 2 tahun, yang harus menggunakan kursi roda dalam menjalani hidupnya. Tidak ada orang yang menginginkan seseorang lahir dengan disabilitas, karena hidup memang tak sempurna. Mbak Yuni menjalani hidup dengan penuh rasa optimis dan berorientasi ke depan. Dengan keterbatasannya, ia mampu mengenyam studinya hingga saat ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi ia dilarang oleh orang tuanya. Orang tua mb Yuni menganggap bahwa nantinya ia tidak bisa kuliah dengan kondisi tubuhnya, dan berbagai alasan lainnya. Namun setelah itu ia pun mengikuti kursus menjahit, mengikuti Jogja Design School dan mendapatkan ijazah. Setelah itu mbak Yuni mencoba untuk membuka usaha jahitan/ menjahit dan respon yang didapat oleh lingkungan sekitar adalah rasa tidak percaya apakah ia bisa melakukan hal tersebut. Namun dengan kemauan mbak Yuni yang keras dan semangat untuk membantu teman-teman disabilitas yang lain. Sampai saat ini ia masih sibuk menjalani bisnisnya tersebut dengan order jahitan yang sering membuat jam kerjanya harus bertambah. Impian utama dalam hidupnya adalah bagaimana nantinya ia dapat membantu teman-teman disabilitas yang lain dengan apa yang ia mmiliki. Motto hidupnya adalah jangan pernah menyerah, bukan karena seorang difabel maka seseorang menjadi patah semangat, hidup harus terus dijalani.

PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI BAGI REMAJA DISABILITAS DI BRTPD PUNDONG, 30-31 AGUSTUS 2016

img_3666 img-20160901-wa0027

Setiap orang, baik orang tua maupun anak dan remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi untuk lebih memahami pentingnya pengetahuan tersebut bagi dirinya. Kesehatan Reproduksi bukan hanya tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan, alat kontrasepsi dan penyakit yang berkaitan dengan hubungan tersebut. Akan tetapi, kesehatan reproduksi adalah keseluruhan rangkaian sistem dan fungsi reproduksi sehingga sehat secara fisik, mental dan sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.
Banyak orang tua dan remaja non disabilitas belum memahami tentang pentingnya hal tersebut. Lalu, bagaimana dengan remaja dengan disabilitas? Apalagi disabilitas mereka bermacam-macam, antara lain disabilitas netra, disabilitas grahita, disabilitas daksa dan lain-lain. Tentu saja pemahaman mereka juga bermacam-macam, bagaimana cara mereka mengerti konsep kesehatan reproduksi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Sangat kompleks dan perlu kerja bersama seluruh komponen untuk melakukannya.
SAPDA sebagai lembaga yang konsen terhadap masalah tersebut, mencoba melakukan transfer pengetahuan kesehatan reproduksi yang berguna untuk remaja dengan disabilitas. Bagaimana mereka memahami tentang organ reproduksi mereka, bagaimana merawatnya sehingga nantinya remaja tersebut mampu meningkatkan pertahanan diri mereka dengan baik dari pihak-pihak di luar diri mereka, baik berbentuk pelecehan ataupun kekerasan. Oleh sebab itu, untuk menjembatani transfer pengetahuan tersebut SAPDA akan melakukan Training Kesehatan Reproduksi untuk Remaja dengan Disabilitas di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Pundong pada tanggal 30-31 Agustus 2016. Pelatihan tersebut akan diikuti oleh remaja disabilitas yang bertempat tinggal di asrama BRTPD, dengan komposisi remaja disabilitas netra, disabilitas daksa, dan disabilitas runguwicara/tuli.
Tujuan dari kegiatan ini adalah : Menggali pengetahuan remaja disabilitas tentang kesehatan reproduksi; dan Meningkatkan pemahaman remaja disabilitas terhadap pelecehan dan kekerasan seksual. Sedangkan hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan pelatihan ini adalah : Adanya pengetahuan remaja disabilitas tentang kesehatan reproduksi yang lebih mendalam; dan Adanya konsep pertahanan diri remaja disabilitas dari pelecehan dan kekerasan.
Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, yaitu Selasa dan Rabu, 30 dan 31 Agustus 2016 pukul 09.00 – 12.00 WIB bertempat di BRTPD Pundong, Srihardono, Pundong, Bantul.

Continue reading PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI BAGI REMAJA DISABILITAS DI BRTPD PUNDONG, 30-31 AGUSTUS 2016

PELATIHAN PENANGANAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DISABILITAS DI LOMBOK (NTB)

img-20160809-wa0013 img-20160809-wa0010

SAPDA sangat concern dalam memperjuangkan hak penyandang disabilitas, tidak hentinya melakukan gerakan-gerakan untuk memperkuat level jejaring dalam bersinergi bersama DPO, CSO, NGO dan pemerintah untuk melakukan pelatihan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak disabilitas. Pelatihan ini dilakukan pada 9 s/d. 11 Agustus 2016 bertempat di Mataram, lombok.

Pelatihan ini bertujuan untuk memahamkankonsep kekerasan berbasis Seks, Gender dan Disabilitas stakeholder pemberi layanan level daerah; memahamkan konsep penanganan kekerasan terhadap perempuan dengan disabilitas berbasis konsep gender dan disabilitas kepada stakeholder pemberi layanan level daerah dan mendorong sinergitas DPO, CSO serta pemberi layanan dalam penanganan kekerasan berbasis gender dan disabilitas.

Peserta yang terlibat dalam pelatihan ini adalah :
1. LPA Nusa Tenggara Barat
2. BP3AKB
3. Dinas Dikpora
4. Peksos propinsi
5. LSM ( LBH Apik, SANTAI, GAGAS Mataram, FORPAKEM)
6. Pokja ABH kec. Ampenan
7. PSMP Paramita ( Lembaga dibawah kementrian untuk rehabilitasi pada anak).
8. RPTC (Rumah Perempuan Trauma Center (Tempat rehabilitasi untuk khusus korban perempuan dibawah Dinas Sosial)
9. PKBI
10. Kejaksaan negeri NTB
11. Kejari Mataram
12. PPA Polres Mataram
13. PPA Polda NTB
14. DPO (PPDI dan Gerkatin)

Di awal proses mengenai diskusi kelompok peserta, dipresentasikan hasil diskusi yang menggambarkan kekerasan berbasis gender dan disabiltias, seperti :
• Steorotype : Stigma negative pada disabilitas dari masyarakat (lemah, tidak layak, merepotkan)
• Diskriminasi : Tidak memberi kesempatan pada disabilitas
• Awarness : Keluarga/masyarakat kurang memahami kebutuhan disabilitas.
• Over protektif : Sikap keluarga/masyarakat kepada disabilitas yang berlebihan.
• Kekerasan seksual : Kondisi disabilitas memberi peluang yang besar untuk menjadi korban kekerasan/perkosaan. Hukum positif di Indonesia kurang berpihak pada disabilitas masih bicara secara umum.

Dalam hasil diskusi selanjutnya, masih ditemukan penyebutan “Tuna…” sedangkan kerentanan karena penyandang didsabilitas dianggap aib keluarga atau karma sehingga masih banyak dikucilkan/ disembunyikan. Bila terjadi kekerasan pada mereka maka biasanya langkah penyelesaian dengan hukum adat dan kekeluargaan. Dalam melakukan pendampingan penting memahami sampai dasar / konsep harus jelas agar bisa menganalisa dari berbagai sisi dan terwujud apa yang menjadi KEBUTUHAN KORBAN. Struktur dalam masyarakat (Tingkatan relasi kuasa / tahapan di masyarakat) juga sangat berpengaruh untuk menganalisa dalam penyelesaian masalah, misalnya :
– Pimpinan dan bawahan, walaupun bawahan adalah laki-laki akan tetapi karena relasi kuasa maka pimpinan perempuan lebih berkuasa.
– Majikan dan pembantu, dalam kasus kekerasan pembantu tidak berani melaporkan majikan karena takut dipecat/tidak punya penghasilan.
– Pembantu perempuan dan pembantu laki-laki sama-sama pembantu, lebih rentan yang perempuan menjadi korban kekerasan.

Continue reading PELATIHAN PENANGANAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DISABILITAS DI LOMBOK (NTB)

AUDIENSI KE BPAD DIY TERKAIT INISIASI PERPUSTAKAAN AKSESIBEL SAPDA

IMG-20160407-WA0005

Kamis, 7 april 2016 tim SAPDA mengadakan audiensi ke BPAD (Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah) mengenai inisiasi rintisan perpustakaan aksesibel SAPDA bagi teman-teman disabilitas netra.

Kepala BPAD, Budi Wibowo mengapresiasi inisiasi perpustakaan aksesibel SAPDA, ia juga menambahkan ada beberapa koleksi yang masih belum lengkap di Grhatama Pustaka terkait dengan kebutuhan teman-teman disabilitas netra dalam aksesibilitas informasi sumber referensi. Dalam hal ini tim perpustakaan SAPDA menyampaikan program-program terkait format media yang akan diproduksi sehingga nantinya akan memudahkan teman-teman disabilitas netra mengakses informasi. Selain itu, salah satu program dari perpustakaan aksesibel SAPDA adalah menjangkau teman-teman disabilitas netra di daerah, sehingga diharapkan ke depannya kapasitas teman-teman netra akan meningkat, selalu belajar dan mencari tahu informasi.

Ditemani juga oleh Budiyono, Pustakawan Madya BPAD DIY mengatakan bahwa perlu adanya optimalisasi pemanfaatan koleksi Perpustakaan Daerah, karena dari BPAD telah menyediakan sarana bagi teman-teman disabilitas untuk dapat mengakses perpustakaan.

Dengan demikian, apabila terjalin kerjasama antara SAPDA dengan BPAD diharapkan terwujudnya iklim inklusi di DIY.

 

 

 

 

DISKUSI KEKERASAN PADA REMAJA PENYANDANG DISABILITAS

Hari Perempuan Internasional dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahun. Ini adalah sebuah hari besar yang dirayakan di seluruh dunia untuk memperingati keberhasilan kaum perempuan di bidang ekonomi, politik dan sosial. Di antara peristiwa-peristiwa historis yang terkait lainnya, perayaan ini memperingati kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya.
Menurut data Komnas Perlindungan Anak (PA), kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak meningkat jumlahnya dari waktu ke waktu. Pada tahun 2015 menunjukkan dari 1.726 kasus pelecehan seksual yang terjadi, sekitar 58 persennya dialami anak-anak. Ironisnya, kasus-kasus kekerasan seksual yang dialami anak-anak justru lebih sering terjadi di dalam lingkungan terdekat anak, seperti di dalam rumahnya sendiri, sekolah, lembaga pendidikan dan lingkungan sosial anak. Pelakunya adalah orang yang seharusnya melindungi anak, seperti orang tua, paman, guru, juga bapak atau ibu tiri.
SAPDA sendiri, sebagai lembaga yang konsen pada perlindungan perempuan, disabilitas dan anak beberapa waktu ini telah melakukan proses pencegahan dengan melalui pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja dengan disabilitas di beberapa sekolah, komunitas dan orang tua dari remaja dengan disabilitas. Tindak lanjut untuk pencegahan tersebut adalah melakukan forum diskusi pemahaman kekerasan yang dihadapi oleh anak/remaja dengan disabilitas sehingga tercapai satu kesatuan pemahaman serta agar anak/remaja disabilitas tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan berkualitas. Dalam rangka memperingati hari Perempuan Internasional serta untuk mengawali diskusi selanjutnya, SAPDA ingin mengangkat tema kekerasan yang dialami dan dihadapi oleh remaja disabilitas.

Continue reading DISKUSI KEKERASAN PADA REMAJA PENYANDANG DISABILITAS

DISKUSI KEBUTUHAN/ FASILITAS DASAR PERPUSTAKAAN AKSESIBEL SAPDA

IMG_2022

Diskusi yang difasilitasi Oleh SAPDA terkait dengan perpustakaan aksesibel ini menghadirkan beberapa pengurus Braille’iant Jogjakarta dan melibatkan beberapa mahasiswa difabel netra yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, dengan detail P : 8 orang, L: 11 orang, disabilitas netra : 10 orang. Diskusi ini dilaksanakan di ruang difabel corner UIN Sunan Kalijaga Yogyarta. Hal-hal yang dibahas dalam diskusi ini berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan perpustakaan agar menjadi lebih aksesibel. selain itu juga membahas soal rencana kolaborasi program antara SAPDA dan komunitas Braille’iant Yogya.

Beberapa saran muncul dari mahasiswa difabel yang terlibat dalam diskusi. Saran menarik yang muncul adalah menjalin kerja sama dengan Yayasan Mitra netra Jakarta sebagai sebuah lembaga yang lebih dahulu memiliki perpustakaan yang ramah bagi difabel netra. lembaga ini juga secara rutin memproduksi audio book dan SAPDA dapat bekerja sama untuk mendapatkan beberapa buku audio yang dibutuhkan. selain itu, muncul pula saran tentang pengadaan alat pembaca buku audio yang disebut daisy Reader. Alat ini mampu membaca berbagai format buku seperti audio books berformat MP3, bahkan dapat pula membaca e-book. Alat ini juga mampu menandai halaman-halaman tertentu sehingga difabel netra atau pembaca tidak kesulitan untuk membaca dan mencari point-point penting. Tambahan yang menarik dari mbak Tanti, mahasiswa jurusan Sejarah di UIN ini menyampaikan hambatannya dalam menggali informasi, data serta referensi dalam literasi sejarah kuno, karena kondisi buku yang sudah tidak layak untuk discan. Juga tentang siswa netra yang kuliah di jurusan Agama Islam, dengan huruf arab yang tidak bisa terbaca itu akan sangat menyulitkan bagi mereka. Ia juga menyampaikan, apa yang menjadi konsep dari pendirian perpustakaan aksesibel SAPDA ini? Untuk buku-bukunya kategorinya apa? Pendidikan atau apa? Dari pihak SAPDA menjawab, untuk buku-buku yang ada masih bersifat umum, yang relevan dengan isu lembaga.

Continue reading DISKUSI KEBUTUHAN/ FASILITAS DASAR PERPUSTAKAAN AKSESIBEL SAPDA

ROADSHOW PROGRAM SRHR DALAM PENJANGKAUAN DI BEBERAPA KOMUNITAS/ JARINGAN LEMBAGA SAPDA

SAPDA dalam Program SRHR telah melakukan diskusi dan penyuluhan kesehatan reproduksi kepada remaja dan orangtu yang memiliki anak disabilitas. Diskusi dan penyuluhan SRHR di lakukan ke beberapa jaringan/ komunitas, baik yang berada di kota Jogja, maupun di Kabupaten Bantul.

Dikarenakan belum banyak perkumpulan / komunitas orangtua yang memiliki anak disabilitas maka lembaga SAPDA berinisiatif bekerjasama dengan beberapa SLB dan FKKADK baik yang ada di Kota Jogjakarta dan Kabupaten Bantul dalam melakukan diskusi dan penyuluhan Kesehatan Reproduksi kepada orangtua yang memiliki anak disabilitas. Untuk mengetahui adanya perubahan pengetahuan dan masukan tentang kesehatan reproduksi (SRHR) yang sudah diberikan, maka team SRHR melakukan kunjungan kebeberapa SLB yang berada di kota Jogja dan Kabupaten Bantul.
Tujuannya adalah:
1. Mempererat silahturahmi antar jaringan / komunitas dengan Lembaga SAPDA
2. Mengetahui perkembangan pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada jaringan / komunitas
3. Mengetahui kebutuhan / permasalahan terkait issue Kesehatan Reproduksi pada Jaringan / komunitas
Output yang didapatkan adalah:
1. Adanya jalinan kerjasama yang baik antara Jaringan / komunitas dengan Lembaga SAPDA
2. Adanya peningkatan pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada Jaringan / Komunitas
3. Adanya sharing dan masukan kepada Lembaga SAPDA terkait program Kesehatan Reproduksi

Continue reading ROADSHOW PROGRAM SRHR DALAM PENJANGKAUAN DI BEBERAPA KOMUNITAS/ JARINGAN LEMBAGA SAPDA